Logo Bloomberg Technoz

Meski begitu, teknologi basis mineral yang sangat relevan belum terhubung kuat dengan industri manufaktur PLTS domestik.

“Saat ini, segmen strategis yang bernilai tambah tinggi justru belum tersedia di dalam negeri. Aktivitas industri hilir Indonesia saat ini masih terbatas pada perakitan panel surya,” kata dia. 

Potensi Jumbo Mineral Kritis Indonesia (per 2024). Sumber: Kementerian ESDM. Tim Grafis: Bloomberg Businessweek Indonesia

Lompatan nilai tambah, padahal, berada pada sektor rantai pasok yang lebih dalam.

Produksi solar wafer, dalam catatan Indef, mampu memberikan nilai tambah hingga 68 kali lipat, sementara pengembangan sel surya memiliki nilai tambah 22,4 kali lipat. 

“Akibat absennya ekosistem ini, nilai tambah PLTS di Indonesia masih banyak bergantung pada rantai pasok luar negeri,” ungkapnya.

Kendati demikian, Indonesia sebenarnya sudah memiliki modal awal di sektor midstream yang memanfaatkan bahan baku domestik.

Produk seperti frame aluminium, tempered glass, kabel tembaga, kontak listrik, dan komponen berbasis timah berpotensi besar menjadi pintu masuk penguatan rantai pasok.

“Indonesia sudah punya kemampuan produksi beberapa komponen seperti frame aluminium, tempered glass, dan sebagainya dan ini merupakan pintu masuk agar bisa memberikan dampak signifikan atau industrialisasi dari mineral kritis," tambah Imaduddin.

Tantangan Terbesar

Indef juga mengingatkan bahwa tantangan terbesar Indonesia saat ini bukan sekadar memperbesar kapasitas perakitan akhir, melainkan membangun rantai pasok yang benar-benar terintegrasi.

Tanpa penguatan di sektor antara dan hilir, lonjakan permintaan PLTS di dalam negeri justru berisiko memperlebar angka ketergantungan pada impor.

Produk dengan kompleksitas teknologi tinggi seperti baterai canggih, semikonduktor, dan solar photovoltaic (PV) saat ini masih memiliki kesenjangan kapabilitas yang masih tinggi dari industri Indonesia saat ini. 

Sektor-sektor tersebut ini memerlukan investasi raksasa pada penguasaan teknologi, standarisasi kualitas, pembenahan ekosistem pemasok, dan peningkatan keahlian tenaga kerja.

“Melalui peta jalan yang bertahap ini, Indonesia diharapkan mampu naik kelas menjadi negara produsen teknologi energi terbarukan, sekaligus mengoptimalkan penyerapan mineral kritis domestik tanpa menciptakan celah kapabilitas yang terlalu besar,” jelasnya.

Sebagai informasi, dalam rencana usaha penyediaan tenaga listrik (RUPTL) 2025-2034 total penambahan kapasitas pembangkit listrik baru adalah sebesar 69,5 gigawatt (GW).

Adapun, sebesar 42,6 GW atau 61% akan berasal dari pembangkit listrik berbasis EBT, dan 10,3 GW atau 15% dari sistem penyimpanan energi.

Dari seluruh jenis pembangkit EBT, sumber energi surya atau PLTS memiliki porsi yang cukup besar yakni 17,1 GW.

Kemudian, disusul oleh pembangkit listrik tenaga air (PLTA) sebesar 11,7 GW, pembangkit listrik tenaga angin (PLTB) sebesar 7,2 GW, pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) sebesar 5,2 GW, bioenergi sebesar 0,9 GW, dan nuklir sebesar 0,5 GW.

Sementara itu, untuk kapasitas sistem penyimpanan energi mencakup PLTA pumped storage sebesar 4,3 GW dan BESS sebesar 6,0 GW.

Meski begitu, Indonesia tidak sepenuhnya meninggalkan pembangkit fosil. Dalam RUPTL, masih akan dibangun sebesar 16,6 GW, yang terdiri dari pembangkit berbasis gas sebesar 10,3 GW dan batubara 6,3 GW.

(smr/wdh)

No more pages