Data pasar overnight index swaps saat ini menunjukkan adanya peluang sekitar 80% bagi BOJ untuk mengambil tindakan sebelum akhir tahun. Selain itu, sekitar 90% dari 44 ekonom yang disurvei oleh Bloomberg memproyeksikan bahwa BOJ akan menaikkan suku bunga acuan mereka pada rapat kebijakan bulan Desember mendatang.
Pelemahan terbaru mata uang Jepang ini terjadi meskipun otoritas setempat sebenarnya baru saja menggelar aksi intervensi rekor senilai 11,73 triliun yen (sekitar US$73,6 miliar atau Rp1.313 triliun) sepanjang periode 28 April hingga 27 Target Mei lalu. Berdasarkan data cadangan devisa Kementerian Keuangan Jepang, pemerintah kemungkinan besar mencairkan kepemilikan surat berharga luar negeri mereka, termasuk surat utang pemerintah AS (US Treasury), untuk mendanai intervensi raksasa tersebut.
“Pasar saat ini sedang—dan memang sudah seharusnya—berada dalam kewaspadaan tinggi terhadap potensi aksi nyata dari Kementerian Keuangan Jepang,” kata Brian Daingerfield, kepala strategi valuta asing G10 di NatWest Markets. “Kita telah melihat di masa lalu bahwa intervensi kerap dipicu oleh risiko peristiwa tertentu.”
Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama baru-baru ini kembali menegaskan bahwa pemerintah siap merespons pergerakan nilai tukar kapan pun diperlukan. Namun, sejumlah analis menilai pelemahan yen saat ini belum cukup menjadi alasan untuk melakukan intervensi.
“Tidak ada alasan yang cukup kuat untuk melakukan intervensi, dan saya tidak melihat Kementerian Keuangan berada dalam posisi untuk membahas hal itu,” ujar Tohru Sasaki, Kepala Strategi Fukuoka Financial Group. “Dolar memang sedang kuat, tetapi yen justru relatif kuat terhadap mata uang lainnya. Ini bukan pelemahan yen yang terjadi secara menyeluruh.”
Yen selama ini berada di bawah tekanan akibat kesenjangan suku bunga yang lebar antara Amerika Serikat dan Jepang. Harga minyak yang masih tinggi akibat konflik AS-Iran juga memberikan tekanan tambahan terhadap Jepang yang sangat bergantung pada impor minyak mentah yang diperdagangkan dalam dolar AS.
Meski AS dan Iran telah mencapai kesepakatan sementara untuk membuka kembali Selat Hormuz, dampak positifnya terhadap yen masih sangat terbatas. Para spekulan bahkan meningkatkan posisi taruhan terhadap pelemahan yen ke level tertinggi dalam sembilan tahun terakhir, menandakan kembali maraknya strategi carry trade yen meskipun risiko intervensi masih membayangi.
Jika pelemahan terus berlanjut, level penting berikutnya yang menjadi perhatian pasar adalah 161,95 yen per dolar AS. Jika level tersebut ditembus, yen akan berada pada posisi terlemah terhadap dolar sejak Desember 1986.
(bbn)






























