Logo Bloomberg Technoz

Namun, untuk tenor pendek yang jatuh tempo bulan depan (10/8/2026) tercatat turun cukup tajam sebesar 24,29% sekitar Rp51 miliar, menjadi Rp1,59 triliun dari sebelunya Rp2,1 triliun. 

Penyerapan Agresif

Meski minat investor melemah, pemerintah justru meningkatkan jumlah yang diserap sebesar Rp600 miliar, menjadi Rp9,45 triliun, dari penyerapan sebelumnya Rp8,85 triliun. 

Strategi penyerapan ini menunjukkan pemerintah sepertinya berupaya mengamankan kebutuhan pembiayaan semester kedua tahun ini, meski kondisi pasar belum sepenuhnya mendukung.

Penyerapan dalam lelang sukuk (17/6/2026). (DJPPR, diolah)

Dengan penyerapan yang lebih agresif itu, rasio penyerapan jadi melonjak dari sebelumnya sekitar 34%, menjadi hampir 50%. Pemerintah juga menjadi seri PBS030 yang jatuh tempo pada 15 Juli 2028 sebagai sumber pembiayaan utama dalam lelang kemarin. 

Agaknya pemerintah membutuhkan pembiayaan cukup besar sehingga bersedia menyerap lebih banyak, dengan yield atau imbal hasil yang lebih tinggi. 

Dalam lelang kemarin, yield naik di kisaran 28 hingga 39 bps. Seperti, seri PBS030 mengalami kenaikan yield paling tajam 38,8 bps menjadi 7,07% dari sebelumnya 6,68%. Disusul yield seri PBS040 terkerek sebanyak 36 bps menjadi 7,05% dari 6,69%. Sementara, PBS038 naik 30,5 bps menjadi 7,21% dari sebelumnya 6,9%, dan yield PBS034 naik 28,5 bps jadi 7,13%. 

Kenaikan yield cukup tajam yang terjadi dalam dua pekan menandakan bahwa persepsi risiko masih diganjar mahal investor, meski pada saat lelang berlangsung, tekanan terhadap rupiah relatif mereda. 

Hal ini dipicu oleh berbagai sentimen. Pertama, saat lelang berlangsung pasar tengah menantikan petunjuk soal suku bunga AS, yang kemudian mengirim sinyal hawkish dengan mempertahankan tingkat suku bunga di kisaran 3,5%-3,75%, sesuai ekspektasi pasar. 

Namun, 9 dari 19 orang pejabat The Fed mulai memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga pada tahun ini. Pasar merespons proyeksi terbaru pejabat The Fed yang menunjukkan semakin banyak pembuat kebijakan memperkirakan perlunya kenaikan suku bunga setidaknya sekali tahun ini, sehingga mendorong kenaikan imbal hasil Treasury AS. 

Kedua, persepsi pasar yang masih berhati-hati terhadap prospek ekonomi dan fiskal domestik. Sentimen tersebut memang semakin menguat setelah sejumlah lembaga pemeringkat internasional memberikan sinyal peringatan terhadap kualitas kredit Indonesia. 

Sebagai catatan, outlook peringkat Indonesia diturunkan menjadi negatif, meski masih berstatus layak investasi (investment-grade), mencerminkan kekhawatiran terhadap memburuknya posisi fiskal, meningkatnya kebutuhan pembiayaan pemerintah, serta risiko pelemahan indikator eksternal di tengah ketidakpastian global. 

(dsp/aji)

No more pages