Implikasi Jika Ada Kenaikan Suku Bunga
Namun demikian, Suhartoko menyebut apabila BI menaikkan suku bunga acuan, akan terdapat dampak-dampak yang akan langsung terasa terutama terkait dengan yield obligasi.
“Yield surat berharga domestik akan meningkat dan ini berarti meningkatkan biaya obligasi, karena kebijakan moneter lebih cepat ditransmisikan ke pasar keuangan,” katanya.
Hanya saja, dia mengatakan bahwa pasar kredit belum akan bergejolak karena mekanisme transmisi moneter lambat ke pasar kredit, likuiditas perbankan melimpah dan permintaan kredit belum meningkat.
“Mengingat permintaan kredit masih rendah terlihat dari deposan dengan prime rate masih cukup banyak, undisbursement loan cukup tinggi,” katanya.
Dia menyebut saat ini nilai undisbursed loan atau kredit yang belum dicairkan di perbankan mencapai Rp2.527,46 triliun, setara dengan 22,59% dari total plafon kredit yang tersedia).
“Fenomena ini mencerminkan pelaku usaha yang masih menahan ekspansi bisnis sembari menunggu momentum ekonomi yang tepat,” katanya.
Jika perbankan menaikkan suku bunga kredit, maka permintaan kredit akan menurun. Suhartoko menilai dengan situasi saat ini banyak masyarakat akan menunda konsumsi barang barang tahan lama. Sedangkan dunia usaha menahan diri untuk ekspansi
Sebagai informasi, melansir survei yang dihimpun Bloomberg terhadap 30 orang ekonom/analis menghasilkan median estimasi 5,75%. Artinya, suku bunga acuan BI Rate akan kembali dikerek naik sebesar 25 basis poin (bps), setelah kenaikan yang cukup agresif 75 bps dalam sebulan terakhir.
Proyeksi ekonom terkait BI Rate terkonsentrasi di kisaran 5,5-5,75% memberi sinyal bahwa mayoritas pelaku pasar tidak lagi melihat ruang bagi BI untuk memangkas suku bunga walam waktu dekat, meski pertumbuhan ekonomi terindikasi melambat.
(ell)



























