Logo Bloomberg Technoz

Sugeng menambahkan, produksi negara-negara OPEC+ yang sebelumnya sekitar 103 juta barel per hari saat ini turun menjadi sekitar 93—95 juta barel per hari. Kondisi tersebut, dinilai menciptakan kekurangan pasokan minyak di pasar global.

Oil storage./dok. Bloomberg

Tidak hanya itu, Sugeng mengungkapkan cadangan minyak di Amerika Serikat (AS) hingga China juga mengalami penurunan.

Saat ini, kata dia, kedua negara tersebut sedang berupaya melakukan pengisian kembali cadangan minyak.

Importir Bersih

Lebih lanjut, Sugeng menyatakan Indonesia selaku negara importir bahan bakar minyak (BBM) dan gas alam cair atau liquified petroleum gas (LPG) harus mewaspadai berbagai dinamika tersebut.

“LPG kita juga masih impor sehingga perkembangan harga minyak dunia menjadi sangat penting. Untuk itu, Komisi XII DPR bersama pemerintah dan Pertamina secara rutin melakukan mitigasi dan pemantauan terhadap kondisi pasar energi global,” ucap dia.

Selain itu, Sugeng juga menilai perhitungan lifting migas harus dibuat lebih terperinci.

Dalam kaitan itu, dia menyatakan saat ini torehan produksi siap jual atau lifting minyak turut memperhitungkan komponen kondensat dan natural gas liquid (NGL).

“Dengan pemisahan komponen tersebut, perhitungan ICP dan berbagai indikator energi lainnya akan menjadi lebih akurat,” ujar dia.

Kilang minyak China secara tajam mengurangi produksi bulan lalu ke level terlemah dalam hampir empat tahun, setelah impor minyak mentah negara itu anjlok ke level terendah delapan tahun karena hampir terhentinya pengiriman dari Teluk Persia.

Volume penyulingan minyak terus menurun, turun 9,1% year on year (yoy) menjadi 53,72 juta ton, terendah sejak Agustus 2022.

Kilang milik negara mengakhiri bulan dengan tingkat produksi rata-rata 66,3%, terendah untuk data yang dimulai pada akhir 2021.

Adapun, Goldman Sachs memangkas proyeksi harga minyak mentah Brent untuk kuartal IV-2026 menjadi US$80/barel dari proyeksi sebelumnya sebesar US$90/barel, seiring rencana AS dan Iran menandatangani kesepakatan yang diprediksi mengakhiri perang.

Bank investasi tersebut mengasumsikan ekspor dari kawasan Teluk bakal kembali normal ke level sebelum perang pada akhir Juli, dari sebelumnya diproyeksikan bakal terjadi pada akhir Agustus.

“Meskipun perincian lengkap dari perjanjian tersebut belum jelas, kami sekarang berasumsi bahwa ekspor dari Teluk Persia akan kembali normal ke tingkat sebelum perang pada akhir Juli,” kata para analis Goldman Sachs tersebut termasuk Daan Struyven dalam catatannya, sebagaimana dilaporkan Bloomberg News, Selasa (16/6/2026).

Selain itu, proyeksi rata-rata harga minyak Brent sepanjang 2027 juga dipangkas menjadi sekitar US$75/barel dari sebelumnya sebesar US$80/barel.

Harga minyak menuju penurunan terpanjang dalam 10 bulan terakhir karena meningkatnya ekspektasi bahwa kesepakatan AS-Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz akan memicu gelombang pasokan, melonggarkan pasar minyak mentah global.

Patokan global Brent mundur untuk hari kelima di bawah US$79/barel hari ini, diperdagangkan mendekati level terendah tiga bulan, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di dekat US$76.

Pakta sementara, yang dijadwalkan akan ditandatangani pada Jumat, menawarkan insentif keuangan yang luas kepada Teheran, termasuk hak untuk menjual minyaknya segera.

Harga minyak mentah telah turun tajam dalam beberapa pekan terakhir karena langkah-langkah untuk mengakhiri perang antara Washington dan Teheran dipandang akan mengurangi ketatnya pasokan di pasar energi global.

-- Dengan asistensi Mis Fransiska Dewi

(azr/wdh)

No more pages