Para pelaku pasar akan menyimak dengan saksama seberapa kuat komitmen yang ditekankan Warsh untuk membawa inflasi kembali ke target sasaran The Fed di level 2%. Selain itu, para jurnalis diprediksi akan mencecar Warsh mengenai sejauh mana kabar kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran akan memengaruhi prospek inflasi dan lanskap ekonomi AS secara lebih luas.
“Jika dia gagal mempertahankan kepercayaan pasar obligasi, hal itu akan langsung membawa dampak negatif instan berupa potensi kenaikan premi risiko pada suku bunga, yang tentunya berdampak buruk bagi perekonomian secara keseluruhan,” ujar Michael Feroli, kepala ekonom AS di JPMorgan Chase & Co.
Setelah rapat pekan ini, para pembuat kebijakan juga dijadwalkan merilis proyeksi ekonomi kuartalan terbaru serta pembaruan grafik dot plot—diagram yang menunjukkan arah pergerakan suku bunga ke depan menurut para pejabat The Fed. Berdasarkan survei ekonom oleh Bloomberg News, para pejabat diperkirakan akan memproyeksikan tingkat inflasi yang signifikan lebih tinggi, serta menggeser ekspektasi pemangkasan suku bunga mundur ke tahun 2027. Padahal sebelumnya, mereka memproyeksikan masing-masing satu kali pemangkasan pada tahun 2026 dan 2027.
Mengingat kritik terbuka yang pernah dilontarkan Warsh terhadap praktik forward guidance—atau strategi memberi sinyal arah kebijakan kepada investor—para pengamat The Fed akan meneliti jumlah proyeksi dalam grafik dot plot untuk melihat apakah Warsh ikut berpartisipasi di dalamnya atau tidak.
Perubahan Rezim
Warsh juga kemungkinan besar akan didesak untuk membeberkan rincian mengenai "perubahan rezim" yang sempat ia janjikan bakal dibawa ke tubuh The Fed. Warsh sebelumnya telah mengisyaratkan rencana merombak total strategi komunikasi bank sentral, mengurangi ukuran neraca keuangan, serta menguji ulang model inflasi mereka.
Sebagian besar perubahan tersebut memerlukan dukungan, atau bahkan pemungutan suara resmi dari rekan-rekannya di FOMC. Para pejabat penentu kebijakan ini jugalah yang akan mendengarkan konferensi pers tersebut dengan cermat untuk menilai apakah sang gubernur baru mampu merepresentasikan pandangan mereka terkait ekonomi dan potensi perubahan institusional.
Di sisi lain, para pengamat juga akan mencoba mengukur bagaimana cara Warsh mengelola hubungannya dengan Trump, yang secara konsisten menuntut suku bunga rendah dan menerapkan tekanan politik yang masif pada bank sentral. Para kritikus menilai Warsh tidak akan cukup independen dari Gedung Putih, namun ia telah menepis kekhawatiran tersebut.
Robert Tetlow, mantan penasihat kebijakan senior di The Fed, mengatakan bahwa dirinya akan memantau seberapa besar pandangan lama Warsh yang masih tersisa, baik saat dirinya menjadi peneliti di lembaga pemikir konservatif, Hoover Institution, maupun selama masa jabatan terdahulunya sebagai Gubernur The Fed ketika ia dikenal luas sebagai pembasmi inflasi yang agresif.
“Dia mungkin akan menetapkan beberapa batasan,” kata Tetlow. “Sosok 'Warsh versi Gedung Putih' adalah orang yang akan mencari alasan untuk menurunkan suku bunga terlepas dari bagaimana kondisi ekonominya. Sementara 'Warsh versi Hoover' adalah seorang 'elang inflasi' (sebutan untuk pejabat yang agresif menaikkan suku bunga demi menekan harga)."
(bbn)































