“Saya melihat kesepakatan AS-Iran sebagai katalis positif bagi emas karena banyak hambatan yang muncul akibat konflik kini mulai mereda,” kata Alex Wolf, Kepala Strategi Makro dan Pendapatan Tetap Global di J.P. Morgan Private Bank, dalam sebuah wawancara.
Menurut Wolf, hambatan-hambatan tersebut mencakup harga energi yang lebih tinggi, kenaikan imbal hasil obligasi, penguatan dolar AS, serta berkurangnya pembelian emas oleh investor dan bank sentral di Timur Tengah.
Dengan mulai meredanya faktor-faktor tersebut, pendorong struktural harga emas—seperti pembelian oleh bank sentral, diversifikasi dari dolar AS, serta permintaan yang tetap kuat dari Asia dan Timur Tengah—diperkirakan akan kembali menjadi faktor utama penggerak pasar, ujarnya.
Meski demikian, harga emas masih turun sekitar 18% sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari. Selama konflik berlangsung, pergerakan emas cenderung berlawanan arah dengan harga minyak mentah.
Kenaikan harga energi telah mendorong inflasi dan membuat bank sentral mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk jangka waktu lebih lama, sehingga mengurangi daya tarik logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil.
Para pelaku pasar logam mulia kini menantikan serangkaian keputusan bank sentral pekan ini, termasuk pertemuan Federal Reserve yang akan dipimpin oleh Ketua baru Kevin Warsh untuk pertama kalinya.
Ekspektasi pasar saat ini mengarah pada kemungkinan kenaikan suku bunga pada akhir tahun ini.
Harga emas spot naik 0,6% menjadi US$4.339,38 per ons pada pukul 15.30 waktu New York. Harga perak naik 0,4% menjadi US$70,3025 per ons. Platinum dan paladium juga menguat, sementara Bloomberg Dollar Spot Index, yang mengukur kinerja dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama, melemah 0,1%.
(bbn)































