Di sisi lain, Airlangga menyebut pemerintah masih berhati-hati dalam menyikapi perkembangan geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah yang belakangan mulai mereda setelah munculnya kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Airlangga mengatakan, pemerintah masih mempertahankan asumsi yang konservatif meski harga minyak dunia diperkirakan akan turun.
"Pertama, tentu kita monitor karena harga minyaknya akan turun lagi ke sekitar US$83 per barel. Tetapi semua ini baru selesai setelah ditandatangani, jadi sebelum ditandatangani kita tetap konservatif," ujarnya.
Airlangga menambahkan bahwa pemerintah tetap mempertahankan kebijakan subsidi energi, terutama untuk bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan program biodiesel B50 guna menjaga stabilitas ekonomi domestik di tengah gejolak eksternal.
Selain stimulus ekonomi, Airlangga juga mengungkapkan pemerintah tengah menyiapkan pembentukan Indonesia Financial Center yang akan berlokasi di Bali. Regulasi terkait proyek tersebut sedang disusun dan akan dituangkan dalam bentuk undang-undang sesuai amanat regulasi yang ada.
Lebih lanjut, pengembangan pusat keuangan internasional tersebut mengacu pada sejumlah negara yang telah lebih dulu menjalankannya, seperti Dubai dan Singapura.
(cpa/lav)































