Logo Bloomberg Technoz

Apa yang terjadi di Timur Tengah lagi-lagi berdampak ke harga emas. Hubungan Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali memanas, di mana kedua negara terlibat jual-beli serangan.

Militer AS menyebut telah menembakkan rudal ke sejumlah target di Negeri Persia. Sementara Teheran menegaskan pihaknya punya kemampuan untuk melakukan serangan balasan.

Presiden AS Donald Trump menuding bahwa Iran sengaja memperlambat negosiasi perdamaian kedua negara. Sebagai informasi, perang di Timur Tengah sudah memasuki bulan keempat dan jalur pelayaran di Selat Hormuz masih ditutup.

Alhasil, harga energi melambung tinggi. Kemarin, harga minyak jenis brent ditutup naik 1,8% ke US$ 93,1/barel.

Ketika harga energi tidak terkendali, maka inflasi akan ikut meninggi. Ini tentu membuat bank sentral di berbagai negara kesulitan untuk melonggarkan kebijakan moneter melalui penurunan suku bunga acuan. Malah opsi yang ada adalah pengetatan dengan menaikkan suku bunga.

Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga naik.

(aji)

No more pages