Logo Bloomberg Technoz

Sharma mulai menunjukkan arah kepemimpinannya sejak menjabat CEO Xbox pada Februari. Ia secara terbuka membahas tantangan organisasi tersebut dan baru-baru ini mengatakan dalam konferensi Bloomberg Tech bahwa dirinya ingin “mengatur ulang bisnis” yang disebutnya “tidak berada dalam kondisi sehat.”

Dalam email kepada karyawan pada Rabu yang dilihat Bloomberg dan kemudian dipublikasikan di blog Xbox, Sharma menulis bisnis tersebut telah turun ke “accountability margin” sebesar 3%, metrik yang digunakan Microsoft untuk menggambarkan margin laba.

“Di luar Activision Blizzard King, selama lima tahun terakhir kami telah menghabiskan lebih dari US$20 miliar atau sekitar Rp360 triliun dengan asumsi kurs Rp18.000 per dolar AS untuk investasi berkelanjutan pada konten, platform, dan subsidi perangkat keras, tetapi pendapatan tahunan kami turun hampir setengah miliar dolar selama periode tersebut,” tulis Sharma.

“Ke depan, ini tidak bisa terus berlanjut.”

Dulu menjadi raksasa industri video game, Xbox kesulitan tumbuh dalam beberapa tahun terakhir.

Penjualan perangkat kerasnya anjlok, perusahaan gagal secara konsisten menghadirkan gim hit, dan popularitas layanan berlangganan Game Pass mulai stagnan.

Di bawah tekanan perusahaan induk untuk meningkatkan margin, Xbox selama dua tahun terakhir menutup studio, membatalkan gim, dan menaikkan harga.

Sharma menilai Xbox sebenarnya memiliki waralaba gim besar dengan potensi dan permintaan pemain yang sangat kuat, tetapi perusahaan “tidak mendanainya secara memadai untuk bersaing dan menang.”

Di saat yang sama, aliran stabil gim eksklusif dan intellectual property atau IP baru dinilai sangat penting untuk kesuksesan bisnis.

“Kami perlu mengevaluasi ulang keseimbangan antara itu dan prioritas investasi kami untuk lima tahun ke depan,” katanya.

Sharma mengatakan Xbox perlu membangun kembali infrastruktur platform dan memikirkan ulang portofolio bisnisnya dalam beberapa bulan mendatang.

Menurutnya, perusahaan terlalu banyak berekspansi demi memperbesar lini konten, namun justru menjadi “terlalu melebar” ketika strategi bisnis berubah di tengah lanskap industri yang dipenuhi konten melimpah.

Dalam beberapa tahun terakhir, Xbox merilis sebagian besar gimnya ke konsol pesaing seperti Sony PlayStation dan Nintendo. Langkah itu membantu gim seperti Indiana Jones dan Forza Horizon menjangkau audiens yang jauh lebih besar.

Namun strategi meninggalkan eksklusivitas tersebut juga dinilai merusak daya tarik perangkat keras Xbox.

Sharma kini disebut ingin membalik arah kebijakan itu.

Pada Minggu, dalam presentasi video yang menampilkan daftar gim terbaru perusahaan, ia mengumumkan bahwa Gears of War: E-Day dan Clockwork Revolution tidak akan hadir di PlayStation maupun Switch.

Dalam wawancara setelahnya, Sharma dan tim eksekutif mengatakan keputusan distribusi gim ke depan akan ditentukan berdasarkan masing-masing judul.

Menurut sumber Bloomberg, versi PlayStation 5 dari gim Gears of War terbaru sebenarnya sudah dikembangkan dan sempat direncanakan untuk dirilis sebelum Sharma mengubah arah strategi.

Retailer bahkan disebut telah bersiap membuka pre-order untuk versi PlayStation 5 tersebut dan banyak karyawan Xbox terkejut dengan keputusan terbaru itu.

Sharma dan timnya juga menarik trailer gim Halo yang semula dijadwalkan tampil dalam acara PlayStation pekan lalu, yang berpotensi merusak hubungan kedua perusahaan.

Kembalinya strategi eksklusivitas mungkin dapat menyenangkan penggemar fanatik Xbox dan memperbaiki prospek merek, tetapi di sisi lain juga berpotensi mengorbankan pendapatan dalam jumlah besar.

PlayStation 5 telah terjual lebih dari 90 juta unit, sementara analis memperkirakan Xbox hanya terjual sekitar sepertiga dari angka tersebut.

Dalam email kepada karyawan, Sharma juga menegaskan Xbox tengah menghadapi krisis komponen. Pada musim liburan 2027, perusahaan diperkirakan harus membayar biaya penyimpanan dan memori lima kali lebih mahal dibanding 2024.

Akibatnya, Xbox perlu mengubah strategi keseluruhan untuk konsol generasi berikutnya yang memiliki nama kode Helix.

“Meski seluruh industri menghadapi krisis komponen, kami percaya dampaknya lebih besar bagi kami dibanding banyak pesaing karena pilihan yang kami buat selama lima tahun terakhir,” tulis Sharma.

“Kami saat ini tidak mampu memproduksi konsol sebanyak yang ingin dibeli pemain, dan kami membutuhkan model bisnis serta kemitraan baru untuk perangkat keras seiring komitmen kami terhadap Helix.”

Meski tidak menyinggung PHK dalam memo tersebut, Sharma mengatakan di Bloomberg Tech bahwa dirinya tidak menghadapi tekanan finansial yang sama dari Microsoft seperti pendahulunya, Phil Spencer.

“Mandat saya bukan margin 30%. Ini bukan margin software enterprise. Mandat saya adalah menjadi perusahaan gim dan hiburan nomor satu,” katanya.

Namun untuk mencapai tujuan itu, Sharma menggambarkan Xbox sebagai perusahaan yang membutuhkan perubahan besar.

“Bagi sebagian dari kalian, kenyataan ini mungkin mengejutkan dan bahkan membuat frustrasi,” tulisnya dalam memo.

“Kami tidak akan berhasil dengan menyembunyikan kenyataan pahit, dan kami juga tidak akan berhasil dengan terus melakukan hal yang sama sambil berharap hasil berbeda.”

(bbn)

No more pages