Faktor pemberat rupiah berasal dari pelebaran defisit fiskal dan neraca transaksi berjalan. Bank Indonesia (BI) mengumumkan Neraca Pembayaran Indonesia kuartal I-2026 yang tercatat defisit US$9,15 miliar. Jauh lebih dalam daripada defisit kuartal sebelumnya US$6,07 miliar.
Transaksi berjalan juga mencatat defisit sebesar US$4 miliar atau 1,1% terhadap Produk Domestik Bruto. Angka ini memburuk tajam dibandingkan kuartal sebelumnya yang masih surplus US$2,5 miliar. Artinya, dalam satu kuartal saja terjadi perubahan sekitar US$6,5 miliar.
Sebagai negara pengimpor minyak bersih (net importer), Indonesia sepertinya terus dibayangi kenaikan kebutuhan devisa untuk membiayai impor energi. Kondisi ini berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan dan meningkatkan permintaan dolar AS di pasar domestik. Semakin tinggi harga minyak bertahan, semakin besar pula tekanan terhadap neraca eksternal Indonesia.
Di sisi lain, lonjakan inflasi ke level 3,08% menempatkan Bank Indonesia dalam posisi yang serba sulit. Inflasi memang masih berada dalam rentang sasaran 1,5-3,5%, tetapi laju kenaikan yang mulai menyebar ke berbagai kelompok pengeluaran menunjukkan tekanan harga tidak lagi bersifat sementara.
Kenaikan biaya transportasi, restoran, kesehatan, hingga perawatan pribadi mengindikasikan bahwa tekanan inflasi telah merambat ke sektor jasa dan konsumsi rumah tangga.
Di tengah kondisi ini, pergerakan rupiah sepertinya masih akan sangat terbatas. Kombinasi antara lonjakan harga minyak, menguatnya dolar AS, dan adanya tekanan inflasi domestik membuat ruang sempit untuk penguatan rupiah secara berkelanjutan.
(dsp/aji)



























