Logo Bloomberg Technoz

Moshe menilai iklim investasi di sektor hulu migas Indonesia sebenarnya masih terbilang menarik, sebab sejumlah raksasa migas asing masih mempertimbangkan kembali berinvestasi di Tanah Air. Misalnya, Kuwait Foreign Petroleum Exploration Company (Kufpec) hingga Shell plc.

Akan tetapi, Moshe berpendapat torehan tersebut tidak begitu cemerlang jika dibandingkan dengan prestasi sejumlah negara tetangga seperti Malaysia.

“Secara sumber daya itu kita terbesar di Asia Tenggara. Iya mau itu gas, mau itu minyak; kita terbesar di Asia Tenggara. Akan tetapi, kok kita kayak kurang jadi main attraction-nya,” ujar Moshe.

Faktor Pemberat

Moshe menduga kebijakan nonteknis yang diterbitkan pemerintah belakangan ini menjadi salah satu pemberat bagi investor asing untuk berinvestasi di hulu migas Indonesia.

Dia mengungkapkan tidak kunjung rampungnya revisi undang-undang migas, perizinan yang rumit, hingga inkonsistensi kebijakan menjadi sentimen buruk bagi iklim investasi Indonesia.

“Terus kebijakan pemerintah walaupun enggak berhubungan langsung dengan hulu [migas], ya tetapi kita lihat kebijakan-kebijakan itu yang di sektor lain misalkan kayak kemarin masalah BBM,” tutur Moshe.

“Terus kemarin sempat bilang apa ekspor gas mau di stop, tetapi sekarang akhirnya diralat akhirnya enggak jadi. Kemarin juga terkait dengan DHE itu kan sempat dipertimbangkan juga di migasnya, tetapi akhirnya diralat,” lanjut dia.

Adapun, lifting minyak mentah pada tahun ini ditargetkan sebanyak 610.000 bph. Sementara itu, lifting gas bumi dibidik sejumlah 984.000 boepd.

Dalam catatan Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam (ESDM), target investasi hulu migas dipatok US$16 miliar sepanjang 2026, yang berfokus pada pengeboran 100 sumur eksplorasi baru. 

Sementara itu, realisasi investasi sektor migas di Indonesia sepanjang 2025 mencapai US$17,99 miliar atau sekitar Rp295,9 triliun.

Secara terperinci, pencapaian tersebut terdiri dari investasi hulu migas sebesar US$15,4 miliar dan investasi hilir migas sebesar US$2,59 miliar.

Lalu, pada 2024 realisasi investasi di sektor migas mencapai US$17,5 miliar. Pada 2023, realisasi investasi berada di sekitar US$14,9 miliar.

Setahun sebelumnya, pada 2022 realisasi investasi di sektor migas mencapai US$13,9 miliar. Pada 2021, mencapai US$14,7 miliar. Sedangkan pada pandemi Covid 19, mencapai US$13,1 miliar.

Sekadar catatan, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mencatat hingga akhir 2025 terdapat sekitar 305—306 migas yang masih belum digarap oleh kontraktor kontrak kerja sama (KKKS), padahal rencana pengembangannya sudah direstui pemerintah.

Bahlil menyatakan akan membuat terobosan baru untuk menggejot investasi di sektor hulu migas Indonesia, terlebih WK migas di Indonesia yang belum tergarap masih sangat melimpah.

“Kita itu masih mempunyai 300 wilayah kerja [migas] ya. WK kita itu 305—306 wilayah kerja, yang sudah selesai POD [plan of development] ini enggak dijalan-jalanin,” kata Bahlil di kawasan Jakarta Selatan, Senin (8/12/2025).

Bahlil menyebut hingga kini masih terdapat sekitar 70 cekungan yang potensial dan akan dilelang oleh pemerintah.

“[Hal] yang kedua, [KKKS di wilayah kerja] yang sudah selesai POD, itu kita percepat untuk mereka langsung bangun konstruksinya. Kalau yang lambat, kita cabut,” ucap Bahlil.

Selanjutnya, Bahlil juga menyatakan akan mengoptimalkan sumur-sumur tua dengan memperbarui teknologi yang digunakan agar dapat menambah lifting migas Indonesia.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri juga tidak menampik investasi di hulu migas Indonesia memang terus menurun, padahal kesenjangan antara konsumsi dan produksi energi terus melebar.

Hal tersebut disampaikan saat diminta memberikan usulan terkait dengan revisi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi (RUU Migas).

Simon mengatakan para pelaku sektor migas di Indonesia tengah bekerja keras memperlambat penurunan produktivitas sumur yang terjadi secara alami (natural decline), tetapi akhirnya disparitas produksi dan konsumsi migas di Indonesia harus dipenuhi dengan impor.

“Di sisi lain, investasi di hulu migas sebagai motor penggerak juga terus menurun karena Pertamina saat ini adalah termasuk yang terbesar dalam mendorong investasi di hulu migas,” ucap Simon dalam rapat dengar pendapat (RDP) di Komisi XII DPR, medio November 2025.

(azr/wdh)

No more pages