Logo Bloomberg Technoz

Tercatat hanya ada penguatan 271 saham, dan sebanyak–banyaknya 409 saham terjadi pelemahan. Sisanya 137 saham stagnan.

Adapun saham kesehatan, saham properti, dan saham keuangan menjadi yang melemah paling dalam, dengan masing–masing minus 1,49%, 1,09%, dan 1,04%.

Saham–saham big caps pemberat IHSG hingga menempati top losers.

  1. Bank Central Asia (BBCA) mengurangi 25,9 poin
  2. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) mengurangi 18,92 poin
  3. Telkom Indonesia (TLKM) mengurangi 6,29 poin
  4. Astra International (ASII) mengurangi 5,01 poin
  5. Bank Negara Indonesia (BBNI) mengurangi 4,55 poin
  6. Bank Mandiri (BMRI) mengurangi 3,93 poin
  7. Merdeka Copper Gold (MDKA) mengurangi 3,43 poin
  8. Pacific Strategic Financial (APIC) mengurangi 2,83 poin
  9. Charoen Pokphand Indonesia (CPIN) mengurangi 2,65 poin
  10. Chandra Asri Pacific (TPIA) mengurangi 2,39 poin

Sejumlah saham LQ45 unggulan lainnya juga menjadi pemberat laju IHSG, saham PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) drop 6,11%, dan saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) dengan penurunan 5,22%.

Senada dengan saham PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) yang turun 4,79%, saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) amblas 4,67%, dan juga saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) melemah 4,26% hingga menjadi pemberat IHSG.

Sebagian Bursa Asia justru berhasil melenggang di zona hijau. KOSPI (Korea Selatan), NIKKEI 225 (Jepang), TW Weighted Index (Taiwan), TOPIX (Jepang), Straits Times (Singapura), dan Hang Seng (Hong Kong), yang berhasil menguat pada tutup dagang hari ini.

Rupiah Cetak Rekor Terendah Sepanjang Sejarah

Depresiasi rupiah menjadi sentimen negatif yang amat berat bagi IHSG. Menutup perdagangan hari ini, rupiah berada di posisi Rp17.874/US$. Mata uang kebanggaan Tanah Air melemah 0,48% pada Jumat (29/5/2026).

Rupiah tergerus hingga sempat mencapai Rp17.887/US$ yang menjadi titik terlemahnya secara intraday, hingga mencetak level All Time Low penutupan terbarunya, berdasarkan data Bloomberg.

Rupiah Melemah (lagi) Cetak All Time Low Baru (Bloomberg)

Sejumlah tekanan masih membayangi pergerakan rupiah, Harry Su, Managing Director Research di Samuel Sekuritas, menyebut rupiah masih dibayangi oleh pelebaran defisit fiskal dan neraca transaksi berjalan. 

Selain itu, dia menambahkan rupiah juga masih dibayangi risiko penurunan prospek atau peringkat utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat global, seperti Moody's, S&P, atau Fitch akan memicu kepanikan investor obligasi dan menambah aliran modal keluar. 

Di sisi lain, pelaku pasar juga masih mencermati kebijakan baru yang mewajibkan eksportir menempatkan Devisa Hasil Ekspor (DHE) di dalam negeri.

Para trader meragukan aturan tersebut akan memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan cadangan devisa. Sebab, dana tersebut pada dasarkan tetap berada di bawah kendali eksportir meskipun disimpan dalam sistem keuangan domestik.

Panin Sekuritas memaparkan, utamanya, concern pelaku pasar saat ini berfokus terhadap munculnya ekspektasi kenaikan suku bunga BI di tengah pelemahan nilai tukar rupiah yang masih berlanjut.

“Kenaikan suku bunga BI akan berimplikasi pada kenaikan bunga kredit bank yang dikhawatirkan mempengaruhi NPL perbankan di tengah daya beli saat ini yang belum pulih,” mengutip catatan Panin Sekuritas Jumat siang hari ini.

(fad)

No more pages