Logo Bloomberg Technoz

Santos Ltd. dan Repsol SA baru-baru ini mengumumkan telah memulai onstream atau produksi minyak komersial di Blok Pikka mereka di Alaska.

Lokasi ini awalnya diperkirakan menghasilkan sekitar 20.000 barel minyak per hari (bph) dengan produksi yang pada akhirnya diperkirakan meningkat empat kali lipat. Di sampinng itu, rencana ekspansi tambahan juga digadang-gadang bakal meningkatkan aliran lebih tinggi lagi.

Ladang minyak Pikka sendiri digarap Santos bersama dengan Repsol. Santos, perusahaan berbasis di Australia Selatan, memegang 51% hak partisipasi sebagai operator dan sisanya dipegang Repsol.

Nilai proyek itu ditaksir mencapai US$2,6 miliar dengan estimasi lifting atau produksi siap jual mencapai 80.000 bph. Lapangan itu ditarget onstream pada awal 2026 dan berjalan sesuai rencana.

Santos telah merancang rencana sendiri untuk memperluas operasi di North Slope Alaska; dengan memanfaatkan infrastruktur yang ada, lokasi yang terbukti, dan sewa prospektif tambahan.

Sebelumnya, sempat beredar kabar terdapat pembicaraan akhir Pertamina untuk membeli 12,5% saham Repsol SA di Proyek Pikka, Alaska.

Sumber Bloomberg Technoz menuturkan PHE bakal membeli 12,5% hak partisipasi Repsol SA di ladang minyak tersebut, dengan nilai transaksi di bawah US$1 miliar.

Menurut sumber yang mengetahui proses negosiasi tersebut, perhitungan nilai transaksi itu telah mengerucut dan diharapkan rampung akhir 2025.

Rencanannya, PHE bakal menggunakan sebagian dana yang dihimpun dari penerbitan obligasi global atau global bond di Bursa Efek Singapura pada Mei 2025 untuk membiayai akuisisi ini.

Saat itu, PHE tercatat menerbitkan obligasi global senilai US$1 miliar untuk jangka waktu 5 tahun dengan harga par dan tingkat kupon sebesar 5,22%.

Selain proyek Pikka, menurut sumber yang sama, PHE disebut turut mengincar akuisisi sejumlah blok minyak yang telah beroperasi atau operating field untuk meningkatkan aset perusahaan.

Manuver itu dikabarkan dilakukan untuk mempersiapkan anak usaha PT Pertamina (Persero) yang mengurusi bisnis hulu migas itu melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Akuisisi sejumlah blok minyak itu juga disebut-sebut ditujukan dapat menambal defisit lifting minyak pada aset dalam negeri saat ini.

(wdh)

No more pages