“Karena kondisi finansialnya sudah cukup baik,” ujarnya.
Dalam paparannya, Purbaya mengatakan realisasi subsidi bahan bakar minyak (BBM) per April 2026 mencapai 4,7 juta kiloliter atau tumbuh 8,2% dibandingkan tahun lalu atau year on year (yoy). Sementara LPG 3 Kg sebanyak 2.152 juta Kg atau tumbuh 3,7% yoy.
Listrik bersubsidi naik 2,2% yoy atau 42,9 juta pelanggan, pupuk subsidi naik 25,2% menjadi 2,9 juta ton, serta debitur KUR naik 1,4% menjadi 1,54 juta debitur.
“Jadi kita tidak ragu-ragu membelanjakan uang untuk mendukung masyarakat,” jelasnya.
Kementerian Keuangan menyebut realisasi subsidi dan kompensasi dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak mentah (ICP), depresiasi nilai tukar rupiah, serta pembayaran uang muka subsidi pupuk, peningkatan volume BBM, LPG, dan listrik.
Sementara volatilitas harga minyak akibat dinamika geopolitik global dapat meningkatkan realisasi subsidi energi. Indonesia sendiri telah memiliki pengalaman menghadapi kondisi tersebut, termasuk saat lonjakan harga energi pada konflik Rusia-Ukraina pasa 2022.
(ain)



























