Logo Bloomberg Technoz

Taksasi tersebut didapat dengan menghitung harga rata-rata LPG senilai US$900/ton, konsumsi nasional 8,7 juta ton/tahun, serta kurs Rp17.400/US$.

Tetap Subsidi

Lebih lanjut, Hadi meliai program masifikasi CNG 3 kg tetap perlu mendapatkan subsidi dari pemerintah. Dengan demikian, nantinya masyarakat dapat memanfaatkan CNG sebagai sumber energi alternatif, selain LPG 3 kg.

Dalam implementasinya, percepatan program dinilai memungkinkan dilakukan melalui penerbitan keputusan menteri (kepmen), yang dianggap lebih cepat dibandingkan dengan peraturan menteri (permen).

Di sisi teknologi, penyedia infrastruktur tabung CNG disebut telah tersedia cukup banyak di dalam negeri. Untuk itu, implementasi program dinilai tinggal membutuhkan skema kerja sama yang menarik dan berkelanjutan.

“Mengingatkan kembali bahwa karena ini bejana tekanan tinggi, maka safety SOP harus mendapat perhatian serius,” ujar Hadi.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menjelaskan masifikasi CNG melalui pengembangan tabung 3 kg bakal dilakukan secara bertahap dan belum direncanakan dikembangkan sangat masif untuk menggantikan Gas Melon.

“Sebenarnya alternatif dan pengganti kan artinya sama ya. Cuma kalau kita bilang pengganti itu masif sama besar, kalau alternatif kita ada tahapan-tahapannya. [Kebijakan] yang benar itu kita ada tahapan-tahapannya,” kata Laode kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Rabu (13/5/2026).

Dia mengungkapkan pada tahun ini Kementerian ESDM bakal meluncurkan sejumlah proyek percontohan atau pilot project pemanfaatan CNG dalam tabung 3 kg.

Dalam kesempatan itu, Laode sempat menyatakan saat ini Kementerian ESDM bersama Kementerian Perindustrian, Kementerian Ketenagakerjaan,  hingga Badan Standardisasi Nasional (BSN) sedang mengurus pengembangan tabung CNG 3 kg.

Setala, juru bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia menegaskan masifikasi pemanfaatan CNG dilakukan agar terdapat opsi alternatif sumber energi yang bisa digunakan oleh masyarakat.

Langkah tersebut diharapkan bisa mengurangi ketergantungan impor LPG Indonesia, yang saat ini besarannya hampir sekitar 80% dari total konsumsi nasional.

“Betul [bukan untuk menggantikan LPG 3 kg secara keseluruhan]. Prinsipnya CNG diharapkan bisa menjadi alternatif untuk bisa mengurangi ketergantungan pada LPG yang notebene hampir 80%-nya masih impor,” kata Anggia ketika dihubungi, Rabu (13/5/2026).

Sekadar informasi, Kementerian ESDM sedang mengkaji penggunaan tabung CNG tipe 4, yakni tabung dengan bahan plastik atau polimer dan dibungkus dengan komposit atau carbon fiber serta fiberglass untuk digunakan sebagai bahan tabung CNG 3 kg.

Pengembangan tabung CNG dengan volume 3 kg tersebut diklaim memakan waktu 3 bulan, setelah itu produksi tabung CNG 3 kg bakal dimasifkan sehingga dapat segera digunakan masyarakat.

Kementerian ESDM juga memastikan penggunaan CNG dalam tabung 3 kg untuk kebutuhan rumah tangga tidak memerlukan penggantian kompor. Dengan begitu, kompor LPG yang saat ini digunakan masyarakat dapat langsung menggunakan CNG.

Nantinya masyarakat tak perlu menyesuaikan kompor yang dimiliki dengan memasang pengonversi (converter) atau alat lainnya.

Terpisah, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya mengklaim pemanfaatan CNG 3 kg untuk menyubstitusi penggunaan LPG dapat menghemat devisa hingga Rp137 triliun per tahun.

Selain menghemat devisa, Bahlil mengklaim harga CNG 3 kg bakal lebih murah dibandingkan penggunaan LPG 3 kg. Dengan demikian, dia yakin subsidi yang digelontorkan pemerintah juga bisa lebih rendah.

Meskipun begitu, Bahlil belum membeberkan detail kalkulasi penghematan devisa dan potensi penghematan subsidi tersebut.

“Dengan kita memakai CNG insyaallah kalau teknologinya sudah ada, itu mampu kita melakukan efisiensi devisa kurang lebih sekitar Rp130 triliun sampai Rp137 triliun. Kalau itu lebih murah, itu akan mengurangi subsidi kita,” kata Bahlil kepada awak media di Kompleks Istana Kepresidenan, Selasa (5/5/2026).

(azr/wdh)

No more pages