Meski demikian, Senator Republik asal Montana yang duduk di Komite Angkatan Bersenjata, Tim Sheehy, sepakat dengan laporan CBO bahwa biayanya kemungkinan besar akan menembus angka US$1 triliun.
"Jika dibangun sesuai dengan visi Presiden—dan memang harus demikian—ini akan menjadi proyek bernilai multi-triliun dolar," kata Sheehy dalam konferensi tersebut. "Dan saya rasa kita harus jujur kepada masyarakat mengenai hal itu."
Sejumlah pengamat sejak awal telah menduga bahwa estimasi biaya Golden Dome yang diajukan oleh pemerintah tidak realistis dan terlalu rendah.
Golden Dome menjadi salah satu proyek mahal pemerintahan Trump, di tengah rencana pembangunan ballroom baru Gedung Putih dan permintaan anggaran pertahanan senilai US$1,5 triliun yang belum pernah terjadi sebelumnya, sementara konflik di Timur Tengah masih berlangsung.
Biaya perang Iran sendiri diperkirakan mendekati US$29 miliar, menurut pejabat pelaksana pengawas keuangan Pentagon, Jules Hurst, kepada anggota parlemen pada 12 Mei. Sebelumnya, dalam sidang 29 April, ia menyebut angka US$25 miliar.
Kongres telah menyetujui dana US$25 miliar untuk Golden Dome tahun lalu dan Pentagon meminta tambahan US$17 miliar untuk tahun fiskal berikutnya. Namun, anggota parlemen dinilai bisa enggan melanjutkan pendanaan jika biaya proyek jauh melampaui perkiraan.
Pihak CBO menolak memberikan komentar.
Senator Demokrat dari Oregon Jeff Merkley yang memimpin Komite Anggaran Senat, dalam pernyataan pada Rabu menyebut Golden Dome sebagai “hadiah besar bagi kontraktor pertahanan yang dibayar oleh rakyat pekerja Amerika.”
Kritik terhadap pengeluaran Golden Dome juga datang dari kalangan konservatif. Analis kebijakan pertahanan dan luar negeri dari Cato Institute, Benjamin Giltner, menyebut proyek tersebut sebagai sesuatu yang “tidak masuk akal” dalam tulisan di situs lembaga libertarian berbasis di Washington itu.
“Biaya proyek ini lebih buruk dari yang diperkirakan sebelumnya,” tulisnya.
Sebagai bagian dari proyek Golden Dome, Angkatan Antariksa AS telah memberikan kontrak prototipe pencegat berbasis luar angkasa senilai US$3,2 miliar kepada sejumlah perusahaan, termasuk SpaceX milik Elon Musk, serta Lockheed Martin, Northrop Grumman, RTX Corporation, dan Anduril Industries.
Wahana antariksa yang masih dalam tahap konsep itu dirancang untuk menghancurkan rudal yang masuk langsung dari orbit.
Menurut laporan analis senior Bloomberg Intelligence, Wayne Sanders, kontrak awal tersebut dapat membuka peluang kontrak lanjutan bernilai miliaran dolar lainnya di sektor pertahanan luar angkasa.
Laporan CBO memperkirakan komponen luar angkasa—bagian termahal dari sistem—akan terdiri dari satelit pencegat di orbit rendah Bumi mendekati kutub, dengan biaya sekitar US$720 miliar untuk pengembangan, penempatan, dan pemeliharaan.
Namun, sejumlah eksekutif perusahaan komersial yang mengerjakan pencegat luar angkasa membantah estimasi tersebut.
“Saya pikir mereka salah, dan saya rasa sekarang kita bisa jauh lebih efisien dari sisi biaya,” kata Eric Romo dari Impulse Space. Perusahaan asal California itu bekerja sama dengan Anduril untuk mendemonstrasikan pencegat berbasis luar angkasa pada 2027.
Sementara itu, CEO Inversion Space, Justin Fiaschetti, mengatakan angka dalam laporan CBO hanya didasarkan pada “desas-desus mengenai seperti apa sistem itu nantinya.”
“Mereka tidak punya informasi mengenai apa yang sebenarnya sedang dibangun,” ujarnya.
Guetlein menegaskan Pentagon tidak akan melanjutkan program tersebut jika pencegat berbasis luar angkasa tidak dapat dikembangkan secara terjangkau.
(bbn)






















