Logo Bloomberg Technoz

Pezeshkian menambahkan bahwa Iran akan menerapkan mekanisme pemantauan dan kontrol yang efektif serta profesional di Selat Hormuz dalam kerangka hukum internasional, tanpa memberikan rincian lebih lanjut. Ia juga menegaskan bahwa Iran tetap berkomitmen pada penyelesaian diplomatik untuk konflik ini.

Menteri Luar Negeri China Wang Yi pada Jumat mengatakan Selat Hormuz harus segera dibuka kembali untuk pelayaran internasional, menurut kantor berita pemerintah Xinhua.

Sebagai respons atas gangguan pelayaran yang dilakukan Iran, AS memberlakukan blokade terhadap ekspor minyak Republik Islam tersebut. Langkah itu dilakukan untuk memutus sumber pendapatan utama Iran sekaligus menekan Teheran agar menerima syarat perdamaian dari Washington.

Pernyataan China muncul ketika dua ekonomi terbesar dunia itu berupaya menonjolkan kesamaan sikap terkait konflik Timur Tengah dalam pertemuan Trump dan Xi pekan ini. Meski demikian, keduanya sebenarnya berada di posisi berseberangan, dengan Beijing berulang kali mengkritik serangan AS-Israel terhadap sekutunya, Iran.

Dalam perjalanan pulang dari China, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa dirinya juga membahas kemungkinan pencabutan sanksi terhadap perusahaan minyak China yang membeli minyak mentah Iran. Departemen Keuangan AS dalam beberapa pekan terakhir meningkatkan sanksi tersebut untuk menekan Iran dalam perundingan. Namun, Beijing justru memerintahkan perusahaan-perusahaannya untuk mengabaikan sanksi AS.

Peta blokade militer Amerika Serikat atas akses di Selat Hormuz. dok: Bloomberg

“Saya akan membuat keputusan dalam beberapa hari ke depan,” ujar Trump di dalam Air Force One saat ditanya mengenai kemungkinan pencabutan sanksi. “Kami memang membicarakan hal itu.”

Trump juga mengatakan tiga kapal tanker China yang melintasi Selat Hormuz pekan ini sambil mengangkut minyak Iran dapat melintas karena diizinkan oleh AS. Dalam wawancara dengan Fox News, ia menyebut Washington sengaja membiarkan hal tersebut terjadi.

Sebelumnya, televisi pemerintah Iran melaporkan lebih dari 30 kapal diizinkan melintas sejak Rabu malam, mengutip pejabat angkatan laut Garda Revolusi Iran.

Gedung Putih kini menghadapi dilema besar: bagaimana membuka kembali Selat Hormuz, menurunkan harga energi global, dan mengakhiri konflik yang semakin tidak populer menjelang pemilu sela AS pada November mendatang.

Pasar minyak fisik juga kembali menguat dalam beberapa hari terakhir, menjadi pengingat bahwa ketatnya pasokan global masih membayangi industri energi dunia.

Harga minyak Brent telah melonjak sekitar 50% sejak perang dimulai. Para pelaku pasar khawatir konflik antara AS dan Iran kembali meningkat setelah kunjungan Trump ke China gagal menghasilkan kemajuan konkret terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.

Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi tiba di Teheran pada Sabtu dan bertemu dengan pejabat Iran. Menurut kantor berita semi-resmi Tasnim, keduanya membahas hubungan bilateral dan peluang dimulainya kembali perundingan damai AS-Iran, di mana Pakistan berperan sebagai mediator utama.

Pemulihan terbatas pergerakan kapal yang sempat terlihat awal pekan ini kembali memudar karena para pemilik kapal masih berhati-hati.

Salah satu peluang tercapainya kesepakatan jangka pendek tampaknya adalah menunda pembahasan mengenai stok uranium dengan pengayaan tinggi milik Iran. Kedua pihak disebut sepakat isu tersebut dibahas pada tahap akhir negosiasi, meski Trump sebelumnya menjadikan program nuklir Iran sebagai alasan utama perang.

Iran mengaku telah “mencapai kesimpulan dengan pihak Amerika” untuk menunda pembahasan tersebut karena dinilai “sangat rumit,” kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam konferensi pers di India pada Jumat.

Trump juga mengatakan di Air Force One bahwa dirinya bersedia mengirim pasukan AS untuk mengambil uranium Iran “pada waktu yang tepat.” Namun sebelumnya, dalam wawancara dengan Fox News, ia menyebut misi tersebut “lebih untuk kepentingan pencitraan publik dibanding hal lainnya.”

Stok uranium dengan pengayaan tinggi milik Iran, yang keberadaannya tidak diketahui sejak kampanye pengeboman AS dan Israel pada Juni tahun lalu, masih menjadi salah satu hambatan utama dalam tercapainya perjanjian damai.

(bbn)

No more pages