“Tujuan pemerintah mengurangi kuota produksi lebih kepada menjaga kestabilan harga komoditas akibat oversupply di pasar global. Namun, dampaknya terasa juga kepada cashflow dan keuntungan perusahaan,” kata Rizal ketika dihubungi, Kamis (7/5/2026).
“Untuk target PNBP yang sebesar Rp134 triliun kemungkinan tercapai sekitar Rp120—Rp130 triliun atau 90%—97% dari target,” lanjut dia.
Rizal memprediksi setoran PNBP dari royalti batu bara dengan asumsi produksi 600 juta ton dan harga berlaku saat ini, dapat mencapai sekitar Rp90 triliun.
Dia juga menekankan bahwa saat ini pasar batu bara sebenarnya tidak sedang lesu, sebab gejolak di Timur Tengah meningkatkan permintaan komoditas tersebut.
“Filipina dikabarkan menambah pesanan batu bara dari Indonesia. Harga batu bara juga melonjak karena faktor tersebut,” ujar Rizal.
Sekadar informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 tumbuh sebesar 5,61% secara year on year (yoy).
Berdasarkan lapangan usaha, industri pertambangan dan penggalian terkontraksi 21,4%, serta industri pengadaan listrik dan gas yang mengalami kontraksi sebesar 0,99%.
Kontraksi di industri pertambangan justru terjadi saat lapangan usaha lainnya mencatatkan pertumbuhan pada awal tahun ini. Industri pengolahan tumbuh 5,04%; perdagangan, reparasi mobil dan sepeda motor tumbuh 6,26%; pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 4,97%; transportasi dan pergudangan tumbuh 8,04%; penyediaan akomodasi dan makanan minuman tumbuh 13,14%; serta jasa lainnya tumbuh 9,91%.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memangkas target produksi batu bara pada tahun ini di dalam RKAB 2026. Produksi batu bara pada RKAB 2026 menjadi sekitar 600 juta ton, turun dari realisasi produksi pada 2025 sebanyak 790 juta ton.
Ekspor Anjlok
Adapun, Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) mencatat ekspor batu bara Indonesia pada kuartal I-2026 mencapai 112 juta ton atau turun 10,5% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
APBI menyatakan permintaan batu bara global pada awal tahun ini sedang melemah, terutama dari negara tujuan ekspor utama Indonesia seperti China dan India.
Sekadar informasi, Kementerian ESDM menargetkan setoran penerimaan negara bukan pajak atau PNBP sektor minerba mencapai Rp134 triliun tahun ini. Target itu naik 7,63% dari target PNBP sektor minerba sepanjang 2025 yang dipatok senilai Rp124,5 triliun.
Adapun, sepanjang tahun lalu Kementerian ESDM mencatat penerimaan PNBP dari sektor ESDM—khususnya tambang atau minerba mencapai Rp138,37 triliun.
Realisasi tersebut setara dengan 108,56% di atas target Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) tahun lalu yang senilai Rp127,44 triliun.
Adapun, Kementerian ESDM mencatat produksi batu bara nasional sepanjang 2025 mencapai 790 juta ton.
Realisasi produksi batu bara itu anjlok 5,5% dari capaian sepanjang 2024 sebesar 836 juta ton. Kendati demikian, produksi itu lebih tinggi dari target yang dipatok tahun ini sebesar 739,6 juta ton.
Sebagian besar produksi itu disalurkan untuk pasar ekspor, sekitar 514 juta ton atau 65,1% dari total produksi.
Sementara itu, serapan batu bara untuk pasar domestik atau domestic market obligation (DMO) mencapai 254 juta ton atau 32%. Stok batu bara yang dicadangkan sampai akhir 2025 sebesar 22 juta ton atau 2,8% dari keseluruhan produksi tambang.
(azr/wdh)






























