Logo Bloomberg Technoz

Pada Selasa, The Information melaporkan bahwa Anthropic PBC, yang sudah menjadi pelanggan utama chip Google, berencana menghabiskan sekitar US$200 miliar dengan perusahaan milik Alphabet Inc. tersebut dalam lima tahun ke depan.

Informasi ini muncul satu minggu setelah Alphabet mengumumkan akan mulai menawarkan chip Tensor Processing Unit (TPU) kepada pelanggan terpilih untuk digunakan di pusat data mereka sendiri.

Sementara itu, Amazon.com Inc. menyatakan bahwa lini chip AI kustomnya, Trainium, telah memperoleh komitmen pendapatan lebih dari US$225 miliar, dan belum lama ini mengumumkan komitmen senilai miliaran dolar AS dari Meta, yang saat ini sedang bersiap untuk menerapkan chip AI buatan sendiri.

Di sisi lain, Intel Corp. turut merasakan manfaat dari pertumbuhan sektor AI, sementara Qualcomm Inc. memulai menunjukkan kemajuan di pasar pusat data. 

“Permasalahannya dengan memiliki pangsa pasar hampir 100% adalah bahwa hanya ada satu arah yang bisa ditempuh, dan tampaknya perusahaan-perusahaan ini bisa menjadi pesaing yang kredibel,” kata Bill Stone, kepala investasi di Glenview Trust Company.

Kinerja saham Nvidia masih dalam tren penurunan.

Sejauh ini, belum banyak bukti yang menunjukkan bahwa Nvidia kehilangan pangsa pasar yang signifikan kepada pesaingnya. Pangsa pasar Nvidia di pasar akselerator AI mencapai 86% pada 2025, tidak berubah dari 2024, menurut data yang dikumpulkan oleh Bloomberg Intelligence.

Meski demikian, ancaman ini menimbulkan keraguan tentang prospek pertumbuhan jangka panjangnya dan membuat saham-saham lain terlihat relatif lebih menarik.

Saham Nvidia naik 7,8% tahun ini, kira-kira sejalan dengan S&P 500, tetapi kenaikan tersebut tidak seberapa jika dibandingkan dengan perusahaan lain yang terkait dengan chip. Indeks semikonduktor Philadelphia telah melonjak 60%, menjadikan Nvidia sebagai salah satu yang berkinerja terburuk di antara 30 konstituen indeks acuan tersebut pada tahun 2026.

“Jika kita mulai merasakan bahwa Nvidia kehilangan pangsa pasar, bahwa para pesaingnya perlahan-lahan mengikis pangsa pasar atau daya tawar harganya, maka hal itu bisa mulai mengikis momentum laba perusahaan dan kita mungkin akan melihat harga sahamnya anjlok sebagai akibatnya,” kata Stone, yang membantu mengelola aset bernilai US$18 miliar.

Perwakilan Nvidia menolak memberikan komentar, dengan alasan masa tenang. 

Permintaan yang tak pernah terpuaskan akan perangkat komputasi AI mendorong kenaikan Nvidia hingga menjadi perusahaan paling berharga di dunia dengan nilai pasar sebesar US$4,8 triliun. 

Walakin, Nvidia hampir disalip oleh Alphabet, yang nilai pasarnya melonjak lebih dari US$2,5 triliun dalam setahun terakhir di tengah antusiasme terhadap layanan AI-nya, termasuk chatbot Gemini yang populer, serta bisnis komputasi awan dan chip. Alphabet ditutup pada Selasa dengan nilai pasar sekitar US$4,7 triliun.

Boleh jadi, pertumbuhan pendapatan Nvidia masih melonjak. Proyeksi ekspansi 70% pada tahun fiskal saat ini, yang berakhir pada Januari, jauh melampaui pertumbuhan yang diharapkan dari perusahaan-perusahaan megacap lainnya dan akan menjadi peningkatan dari laju 65% tahun lalu. Namun, pertumbuhan ini diperkirakan akan melambat menjadi 32% pada tahun fiskal 2028, sebelum semakin menyempit dalam dua tahun berikutnya. Perusahaan dijadwalkan untuk melaporkan laba kuartal pertama pada 20 Mei.  

Nvidia Corp. dok: Bloomberg

Bagi para investor Nvidia yang optimis, permintaan terhadap prosesor AI tetap sangat kuat sehingga masih terdapat ruang yang cukup besar untuk pertumbuhan pendapatan. Alphabet, Amazon, Meta, dan Microsoft berencana mengucurkan dana hingga US$725 miliar tahun ini untuk belanja modal, dan jumlahnya akan jauh lebih besar pada tahun 2027.

Keempat perusahaan tersebut di atas menyumbang sekitar 45% dari pendapatan Nvidia, menurut data rantai pasokan yang dihimpun oleh Bloomberg.

Namun, sebagian besar perusahaan ini “tampaknya memberikan penekanan yang sama pada penerapan heterogen” baik chip Nvidia maupun chip yang dibuat khusus, tulis analis Bank of America, Vivek Arya, dalam catatan riset pada 29 April.

Yang menarik, TPU Alphabet dianggap sebagai salah satu alternatif terbaik untuk produk Nvidia, dan bisnis ini disebut sebagai “rahasia sukses” Alphabet karena dirancang khusus untuk mempercepat beban kerja pembelajaran mesin. 

Sebagai sinyal betapa pentingnya bisnis ini, analis Citizens, Andrew Boone, memperkirakan Alphabet akan menghasilkan sekitar US$3 miliar pendapatan dari infrastruktur terkait TPU pada 2026, meningkat menjadi US$25 miliar pada 2027.

“Saya tidak akan mengatakan bahwa posisi kompetitif Nvidia terancam secara signifikan oleh chip-chip baru ini, tetapi pergerakan pasar pada saham Nvidia mencerminkan bagaimana orang mulai mempertanyakan pangsa pasarnya, keunggulan kompetitifnya, dan margin keuntungannya,” kata Clayton Allison, manajer portofolio di Prime Capital Financial, yang mengelola aset sekitar US$40 miliar. 

Selasa malam, Advanced Micro Devices Inc. (AMD) menyatakan bahwa mereka memperkirakan lonjakan permintaan yang signifikan terhadap CPU atau unit pemroses pusat, sejalan dengan semakin pentingnya peran chip serbaguna tersebut dalam menjalankan layanan AI. Saham AMD lompat 20% pada perdagangan Rabu waktu AS.

Hal ini tidak mengurangi antusiasme para analis Wall Street terhadap Nvidia. Dari 80 analis yang dilacak Bloomberg yang menganalisis perusahaan ini, hanya ada tiga yang memberikan rekomendasi “Hold” dan satu “Sell”. Perkiraan laba Nvidia untuk tahun fiskal 2027 telah naik 11% selama kuartal terakhir, sementara perkiraan pendapatan naik dengan jumlah yang sama. Perkiraan untuk tahun 2028 bahkan naik lebih tinggi, menunjukkan bahwa investor tetap yakin dengan arah jangka panjangnya.

“Nvidia dulunya adalah pilihan pasti di bidang AI, tetapi kini telah kehilangan popularitas di bidang tersebut, sementara Alphabet kini menjadi favorit AI yang tak boleh dilewatkan,” kata Stone dari Glenview. “Saya tidak berpikir chip baru akan menjadi pukulan fatal, tetapi hal itu akan mempersulit Nvidia untuk mendapatkan kembali momentumnya. Saya tidak menjual, tetapi saya juga tidak membeli saat harga turun.”

(bbn)

No more pages