Menanggapi hal tersebut, Menkes Budi meminta pihak-pihak terkait membuat standarisasi. Harus ada minimumnya dan akan dirapatkan dengan Gubernur,” jawab Menkes.
Dokter lain yang merupakan dokter gigi mengeluhkan hal lain. Kali ini terkait alat untuk pengobatan gigi di Puskesmas yang tidak berfungsi, dan tidak adanya pendamping dokter senior.
“Di sini ada dua Puskesmas, Puskesmas yang satu memiliki 2 alat, namun yang satu rusak, yang satu bisa digunakan namun karena pasien banyak kadan suka bocor. Jadi beberapa tindakan tidak dapat dilakukan. Lalu di Puskesmas yang satu alatnya hanya ada satu dan rusak. Jadi hanya bisa dilakukan pencabutan, untuk kasus yang parah hanya diberikan obat,” kata perwakilan dokter gigi.
Menkes Budi pun meminta para dokter tidak khawatir dan akan segera menyelesaikan masalah tersebut.
Selain itu. dokter juga menanyakan perihal cuti yang diberikan kepada mereka hanya 4 hari dalam setahun. Menurut mereka hal ini sangat berat, karena kadang cuti itu dipotong kalau mereka juga sakit.
“Kita tidak batasi kalau sakit. Ini harus direview lagi. Kita akan mempertimbangkan untuk menaikkan sampai 10 hari cuti. Kalau untuk sakit ya tidak ada batasan dan nggak usah diganti orang, kalau sakit ya sakit saja,” jawab Menkes Budi
“Jangan kejadian lagi. Ini kan untuk masa depan. Saya paham banyak yang mesti diperbaiki. Assignment di RS: ada pemaksaan, pembulian. Itu yang kita mau ubah. Saya mau mengubah. Ini sudah terjadi puluhan tahun. Susah sekali mengubah. Ini sudah jadi budaya lama. Kalau didorong, ada perubahan, ini perbaikan bersama. setiap masukan saya denger, saya musti koordinasi, apa 100 persen berubah mungkin bertahap,” tambahnya.
(spt)



























