Penguatan mata uang Asia terjadi di tengah meningkatnya optimisme terhadap industri AI yang kembali menopang pasar regional, mengingat Asia jadi salah satu pusat penting dalam rantai pasok teknologi global.
Sentimen ini juga diperkuat setelah Presiden AS Donald Trump menangguhkan rencana pengawalan kapal di Selat Hormuz pasca ketegangan dengan Iran, sebagai bagian dari upaya membuka ruang negosiasi untuk meredakan konflik.
Meski begitu, pasar masih tetap berhati-hati. Sebab, terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa tekanan terhadap mata uang Asia sudah usai. Meski harga minyak mentah telah turun, namun masih bertahan di atas US$100 per barel. Melansir data Bloomberg, harga minyak Brent masih berada di US$106 per barel pada 15:03 WIB.
Namun setidaknya, risiko terburuk berupa eskalasi konflik militer yang lebih luas kini mulai mereda.
Dari dalam negeri, data pertumbuhan ekonomi sedikit meredakan kekhawatiran terhadap kondisi perekonomian domestik. Namun, meski angka pertumbuhan tembus 5,61%, namun kualitas ekspansi tersebut masih banyak ditopang oleh belanja pemerintah, di tengah kondisi fiskal yang dinilai masih rentan.
Terlepas dari kekhawatiran tersebut, pasar obligasi sedikit bereaksi positif dengan pergerakan sideways, ada aksi beli di beberapa tenor seperti tenor 5 tahun yang mengalami penurunan imbal hasil 4,8 bps ke 6,77%. Imbal hasil tenor acuan 10 tahun juga turun 5 bps ke 6,76%.
Namun, imbal hasil tenor pendek 1 tahun tergerus cukup dalam 13,3 bps ke 6,49%. Sebab, hari ini Bank Indonesia kembali menggelar lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebagai intervensi untuk stabilisasi rupiah. Imbal hasil SRBI tenor 12 bulan tercatat naik ke 6,21%.
BI menggunakan instrumen SRBI untuk menarik aliran modal masuk. Di sisi lain, BI juga melakukan intervensi dengan membeli obligasi di pasar sekunder, yang sejak awal tahun nilainya mencapai Rp123,1 triliun. Ini semua dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
(dsp/aji)































