Namun demikian, penurunan ini belum merata di seluruh wilayah. Amalia menyoroti masih tingginya angka kematian ibu di kawasan Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. “Wilayah tersebut memiliki MMR tertinggi yaitu 317 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup,” ungkapnya.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah Jawa-Bali yang mencatatkan MMR sebesar 114 per 100.000 kelahiran hidup. “Artinya, kesenjangan antarwilayah masih sangat lebar, bahkan hampir tiga kali lipat,” jelasnya.
Selain indikator kematian ibu, SUPAS 2025 juga mencatat perbaikan pada indikator kematian anak usia dini. Amalia menyebutkan, terdapat empat indikator utama yang digunakan, yakni angka kematian neonatal (NMR), angka kematian bayi (IMR), angka kematian anak (CMR), dan angka kematian balita (U5MR).
“Hasil SUPAS 2025 menunjukkan penurunan terjadi pada seluruh indikator kematian penduduk usia dini tersebut,” ujar Amalia.
Secara rinci, angka kematian bayi (IMR) turun dari 16,85 pada 2020 menjadi 14,12 per 1.000 kelahiran hidup pada 2025. Penurunan ini turut mendorong penurunan angka kematian balita dari 19,83 menjadi 16,38 per 1.000 kelahiran hidup.
Menurut Amalia, tren ini menunjukkan peningkatan peluang hidup bayi pada tahun pertama kehidupannya. “Angka kematian bayi pada SUPAS 2025 turun hampir setengah dibandingkan SP 2010, melanjutkan tren penurunan sejak 2010,” tuturnya.
Meski demikian, kesenjangan antarprovinsi juga masih terlihat jelas pada indikator kematian bayi. Wilayah timur Indonesia kembali mencatat angka yang lebih tinggi dibandingkan wilayah barat.
Amalia mengungkapkan, provinsi dengan angka kematian bayi terendah adalah DKI Jakarta sebesar 9,26 per 1.000 kelahiran hidup. Sementara itu, angka tertinggi tercatat di Papua Pegunungan yang mencapai 37,04 per 1.000 kelahiran hidup.
“Artinya, dari 1.000 kelahiran hidup di Papua Pegunungan terdapat sekitar 37 bayi yang meninggal sebelum mencapai usia satu tahun,” kata Amalia.
Ia menegaskan, meskipun capaian nasional menunjukkan perbaikan, upaya penanganan yang lebih terfokus di wilayah dengan angka kematian tinggi tetap diperlukan guna mengurangi kesenjangan dan meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak secara merata di Indonesia.
(dec)






























