Logo Bloomberg Technoz

Masalah Keamanan

Moshe menjelaskan tekanan CNG dapat mencapai 200 hingga 250 bar atau sekitar 3.600 psi, sementara gas minyak cair atau liquefied petroleum gas (LPG) hanya sekitar 5 hingga 10 bar. Dengan begitu, tekanan CNG lebih besar hampir 20 kali lipat dari LPG.

Moshe juga mengungkapkan CNG memiliki densitas energi sekitar 2,5 kali lebih rendah dari LPG. Artinya, untuk menghasilkan energi yang sama, volume gas CNG yang dibutuhkan jauh lebih besar.

Walhasil, dia memprediksi tabung CNG 3 Kg bakal memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan tabung LPG 12 kg. Moshe menilai tabung CNG tersebut tidak bisa disimpan seperti LPG di sekitar kompor, sebab memiliki ukuran yang besar dan tekanan yang tinggi sangat membahayakan jika mengalami kebocoran.

“Jadi kalau kita di sektor migas tuh enggak pernah ada yang bilang CNG itu lebih aman daripada LPG, itu enggak ada. Kenapa? Karena kenyataannya memang berisiko tinggi. Makanya, [konsumen] yang memakai CNG itu adalah industri; termasuk transportasi atau perhotelan,” ujar Moshe.

“CNG mereka pun mereka pakai itu mereka ada  ruangnya, terus ada fitur safety-nya yang benar-benar aman ya. Ini kebayang kalau ini masyarakat yang menggunakan dengan teknologi yang sekarang pakai LPG lalu beralih ke CNG yang tekanannya 25 kali lipat lebih, [bisa terjadi] banyak sekali insiden-insiden,” tegas dia.

Menyitir situs resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), terdapat 33 badan usaha niaga CNG di Indonesia.

Salah satunya adalah PT Gagas Energi Indonesia, anak usaha PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) atau PGN. Saat ini, PGN Gagas mengoperasikan 14 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) di 7 provinsi, dengan rata-rata pengisian sekitar 2.200 kendaraan per hari untuk layanan CNG masyarakat atau Gasku.

Untuk industri, PGN Gagas melayani lebih dari 600 pelanggan dengan total penyaluran mencapai 4.067.002 million british thermal unit (MMBtu) sepanjang 2025.

Direktur Utama PGN Gagas Santiaji Gunawan mengungkapkan pada tahun lalu perseroan penyaluran 4,6 juta MMBtu gas bumi melalui layanan CNG dan LNG.

Akhir pekan lalu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan berencana untuk mengembangkan CNG dengan format tabung 3 kilogram.

Bahlil mengklaim penggunaan CNG memiliki biaya yang lebih murah sekitar 30% hingga 40%, tetapi dia tak menjelaskan pembandingnya. Dia juga mengklaim sejumlah industri perhotelan dan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) sudah menggunakan CNG sebagai sumber api dalam proses pemasak.

“CNG ini adalah sama juga gas, tetapi dia bukan LPG, dan sekarang sudah dipakai untuk hotel, restoran, dan beberapa [dapur] MBG-MBG. Untuk yang 3 kilogramnya ini baru mau dibuat dan ini cost lebih murah 30%—40%,” kata Bahlil dalam pidatonya di acara Himpunan Alumni IPB, Sabtu (2/5/2026).

Dalam materi yang dia paparkan termuat bahwa CNG merupakan bahan bakar gas yang dibuat dengan mengkompresi gas alam yang terdiri dari C1 atau metana dan C2 atau etana.

Kemudian, CNG disimpan dan didistribusikan dalam bejana tekanan atau tabung pada tekanan tinggi, antara 200 hingga 250 bar (setara 2.900 hingga 3.600 psi).

Ketahanan tabung juga diklaim dapat mencapai 650 baru atau 9.427 psi. Dengan begitu, tabung CNG bakal memiliki toleransi yang besar untuk kebutuhan keamanan.

(azr/wdh)

No more pages