Selain itu, terdapat jaringan gas kota (jargas) sepanjang 19.701 km yang dikelola perseroan khusus untuk melayani kebutuhan rumah tangga.
Dari sisi fasilitas, perseroan mengelola dua floating storage regasification unit (FSRU); yaitu terminal terapung untuk penyimpanan dan regasifikasi gas alam cair atau liquified natural gas (LNG), serta regasification plant atau kilang regasifikasi darat.
Selanjutnya, perseroan mengelola 178 unit titik penyaluran gas dari pupa utama, 816.645 metering and regulating station (MRS) pelanggan, dan stasiun pengatur tekanan gas sebanyak 1.658 unit.
Untuk sektor transportasi dan distribusi gas terkompresi, terdapat 11 unit SPBG yang dikelola perseroan, 4 mobile refueling unit (MRU), serta 175 gas transport module (GTM) atau unit pengangkutan gas.
Kepastian Kebijakan
Dalam kesempatan yang sama, Asosiasi Perusahaan LNG dan CNG Indonesia (APLCNGI) menyoroti sejumlah aspek jika pemerintah serius memasifkan pemanfaatan CNG untuk mengurangi konsumsi LPG.
Ketua Umum APLCNGI Dian Kuncoro berharap adanya kepastian kebijakan yang diberikan pemerintah dalam program masifikasi CNG. Terlebih, pengembangan fasilitas CNG memerlukan modal yang cukup besar, sehingga ketidakpastian kebijakan bisa merugikan pengusaha.
“[Dari pengalaman] pengusaha nih, pemerintah kadang suka berubah-ubah kebijakannya. Nah, kita perlu konsistensi saja,” kata Dian dalam kesempatan yang sama.
Dian juga meminta kepastian alokasi gas bumi yang didapatkan pengusaha untuk diolah menjadi CNG ataupun LNG. Dia juga menyoroti harga LNG yang berpotensi makin mahal selaras dengan tren lonjakan harga minyak mentah.
Selain itu, dia berharap gas bumi yang dialirkan dapat lebih bersih, sebab ketika diolah menjadi CNG seringkali terdapat air yang masuk gegara peralatan gas dryer scrubber tidak beroperasi secara optimal.
“Nah kita berharap gasnya lebih bersih untuk transportasi. Itu salah satu tantangannya juga,” ujarnya.
Sekadar informasi, Dirjen Migas Kementerian ESDM Laode Sulaeman menargetkan program konversi LPG ke CNG tabung 3 kg dapat dimulai tahun ini.
Laode mengungkapkan bakal terdapat pilot project atau proyek percontohan yang dijalankan di kota-kota besar di Pulau Jawa.
Proyek percontohan tersebut ditargetkan mulai dijalankan tahun ini, utamanya setelah uji coba tabung CNG 3 kg rampung dilakukan dalam waktu 3 bulan ke depan.
“Ditargetkan tahun ini bisa dikonsumsi masyarakat. Bertahap di kota-kota besar dahulu di Jawa,” kata Laode kepada awak media di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (5/5/2026).
Dia memberikan sinyal tabung CNG 3 kg bakal menggunakan tabung tipe 4, atau tabung dengan bahan plastik atau polimer dan dibungkus dengan komposit atau carbon fiber serta fiberglass.
Ihwal peta jalan implementasi konversi tersebut, Laode menyatakan Menteri ESDM bersama Ditjen Migas masih mengkaji peta jalan tersebut dan belum dapat mengumumkannya ke publik.
Laode masih belum dapat mengungkapkan peran Pertamina dan pihak swasta dalam proses pemenuhan pasokan gas bumi, pengisian CNG, hingga proses distribusi CNG 3 kg.
“Polanya saya belum bisa umumkan, sedang disusun oleh tim, Pak Menteri juga memimpin langsung, jadi nanti setelah itu akan disampaikan langsung oleh Pak Menteri. Dan akan ini, ada sisi penyiapan tabung, ada distribusinya kan? Nah, ini harus matching gitu,” ujar Laode.
Menyitir situs resmi Kementerian ESDM, terdapat 33 badan usaha niaga CNG di Indonesia.
Salah satunya adalah PT Gagas Energi Indonesia, anak usaha PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) atau PGN. Saat ini, PGN Gagas mengoperasikan 14 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) di 7 provinsi, dengan rata-rata pengisian sekitar 2.200 kendaraan per hari untuk layanan CNG masyarakat atau Gasku.
Untuk industri, PGN Gagas melayani lebih dari 600 pelanggan dengan total penyaluran mencapai 4.067.002 million british thermal unit (MMBtu) sepanjang 2025.
(azr/wdh)




























