Logo Bloomberg Technoz

Defisit dengan Australia terutama disumbang oleh komoditas logam mulia dan perhiasan/permata, serealia dan bahan bakar mineral. Sementara defisit perdagangan dengan Prancis terutama disumbang oleh kendaraan udara dan bagiannya, mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya dan juga produk farmasi.

Sementara itu, Indonesia masih mencatatkan surplus terutama melalui perdagangangan dengan Amerika Serikat, India dan juga Filipina yang masing-masing menyumbang surplus sebesar US$5,06 miliar, US$3,36 miliar dan juga US$2,05 miliar.

Surplus ke negeri Paman Sam terutama disumbang oleh mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, alas kaki, dan pakaian serta aksesorisnya. Sementara surplus ke India disumbang oleh bahan bakar mineral, lemak hewani/ nabati dan mesin serta perlengkapan elektrik.

Sebagai informasi, neraca perdagangan barang Indonesia pada Maret 2026 tercatat mengalami surplus US$3,32 miliar.

Artinya, neraca perdagangan sudah surplus selama 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Kendati demikian, nilainya menurun dibanding surplus pada Maret 2025 yang saat itu mencapai US$4,33 miliar.

Surplus neraca dagang pada Maret 2026 lebih ditopang komoditas nonmigas, yakni surplus US$5,21 miliar. komoditas penyumbang surplus pada kelompok ini terutama adalah lemak dan minyak hewani/nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

Meski begitu, secara historis, surplus kumulatif periode tahun ini merosot tajam hampir separuhnya, dari total surplus Januari-Maret 2025 yang mencapai US$10,91 miliar. Saat itu, nonmigas mengalami surplus mencapai US$15,75 miliar, sementara komoditas migas defisit US$4,84 miliar.

(ell)

No more pages