Logo Bloomberg Technoz

CASA Tembus Rp1.058 Triliun, Biaya Dana BRI Menurun


(Dok. BRI)
(Dok. BRI)

Bloomberg Technoz, Jakarta - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk terus memperkuat struktur pendanaan pada awal tahun 2026 sebagai bagian dari strategi menjaga efisiensi biaya dana sekaligus memperkokoh fundamental bisnis. Langkah ini dinilai krusial untuk memastikan pertumbuhan perseroan tetap sehat dan berkelanjutan.

Penguatan struktur pendanaan menjadi fokus utama di tengah dinamika industri perbankan yang semakin kompetitif. BRI berupaya menyeimbangkan antara ekspansi kredit dan pengelolaan likuiditas agar tetap optimal.

Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyampaikan bahwa strategi ini menjadi bagian dari upaya jangka panjang perusahaan dalam menjaga stabilitas kinerja keuangan. Hal tersebut diungkapkan dalam konferensi pers kinerja keuangan Triwulan I 2026 di Jakarta.

Acara tersebut turut dihadiri oleh jajaran direksi BRI, termasuk Wakil Direktur Utama serta para direktur yang membidangi keuangan, jaringan, dan manajemen risiko. Kehadiran manajemen menunjukkan keseriusan perusahaan dalam menjaga transparansi kinerja.

Hingga akhir Maret 2026, Dana Pihak Ketiga BRI tercatat tumbuh 9,4 persen secara tahunan menjadi Rp1.555 triliun. Pertumbuhan ini menjadi indikator kuat bahwa kepercayaan masyarakat terhadap BRI tetap tinggi.

Peningkatan DPK tersebut terutama ditopang oleh pertumbuhan dana murah atau CASA. Komponen ini menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga efisiensi biaya dana perbankan.

CASA BRI tercatat meningkat 13,2 persen secara tahunan menjadi Rp1.058,6 triliun. Pertumbuhan ini menunjukkan keberhasilan strategi perusahaan dalam mendorong dana berbasis transaksi.

Hery juga menyoroti capaian penting dalam pertumbuhan tabungan dan giro. Keduanya mencatatkan pertumbuhan double digit yang memperkuat struktur pendanaan BRI.

“Angka tersebut juga menandai tonggak penting bagi BRI, di mana untuk pertama kalinya dalam sejarah, pencapaian tabungan BRI berhasil menembus level Rp600 triliun, atau tepatnya mencapai Rp605,8 triliun,” ujarnya.

Capaian tersebut tidak hanya menjadi prestasi finansial, tetapi juga mencerminkan meningkatnya inklusi keuangan di masyarakat. Tabungan yang tumbuh signifikan menjadi indikator kepercayaan nasabah terhadap layanan BRI.

Efisiensi Biaya Dana dan Kinerja Keuangan

Peningkatan CASA turut mendorong rasio CASA BRI menjadi 68,07 persen. Angka ini meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 65,77 persen.

Kenaikan rasio CASA menunjukkan semakin besarnya porsi dana murah dalam struktur pendanaan BRI. Hal ini berdampak langsung pada penurunan biaya dana atau cost of fund.

Seiring dengan penguatan tersebut, biaya dana BRI berhasil ditekan menjadi 2,3 persen. Posisi ini membaik dibandingkan Triwulan I 2025 yang berada di level 3 persen.

“Ini menunjukkan efektivitas strategi BRI dalam memperkuat CASA dan mengelola struktur pendanaan yang lebih efisien, sehingga memberikan ruang yang lebih baik bagi margin ke depan,” jelas Hery.

Efisiensi biaya dana ini menjadi faktor penting dalam menjaga profitabilitas perusahaan. Dengan biaya yang lebih rendah, BRI memiliki ruang lebih besar untuk meningkatkan margin.

Penguatan struktur pendanaan juga didukung oleh meningkatnya transaksi melalui kanal digital. Platform seperti BRImo, Qlola, Business Merchant, dan QRIS turut mendorong pertumbuhan dana murah.

Digitalisasi layanan perbankan menjadi salah satu kunci dalam meningkatkan kenyamanan dan frekuensi transaksi nasabah. Hal ini berdampak langsung pada peningkatan dana berbasis transaksi.

Di sisi lain, kinerja keuangan BRI juga menunjukkan pertumbuhan yang konsisten. Hingga Triwulan I 2026, total aset perusahaan tercatat mencapai Rp2.250 triliun.

Aset tersebut tumbuh 7,2 persen secara tahunan, didorong oleh ekspansi kredit dan pembiayaan. Kredit BRI sendiri tumbuh 13,7 persen menjadi Rp1.562 triliun.

Pertumbuhan kredit yang kuat berjalan seiring dengan pengelolaan pendanaan yang efisien. Kombinasi ini menjadi fondasi penting dalam menjaga kinerja perusahaan tetap stabil.

BRI juga berhasil mencatatkan laba bersih konsolidasian sebesar Rp15,5 triliun. Angka ini tumbuh 13,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Pertumbuhan ini mencerminkan kemampuan BRI dalam menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit dan pengelolaan biaya dana yang semakin efisien. Di satu sisi, pertumbuhan kredit yang tetap kuat memberikan dorongan terhadap pendapatan bunga. Sementara di sisi lain, perbaikan struktur funding, khususnya peningkatan CASA, turut menekan cost of fund. Secara keseluruhan, BRI tidak hanya tumbuh, namun juga mampu menjaga kualitas pertumbuhan,” pungkas Hery.

Dengan strategi yang terarah dan eksekusi yang konsisten, BRI optimistis dapat mempertahankan kinerja positif sepanjang tahun 2026. Penguatan struktur pendanaan akan terus menjadi fokus utama dalam mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan.