Tarriela mengungkapkan, salah satu kapal tersebut merupakan kapal survei oseanografi canggih yang dilengkapi peralatan untuk riset laut dalam, pemetaan dasar laut, eksplorasi geofisika, serta dukungan untuk kendaraan bawah air.
Kapal lainnya disebut sebagai kapal induk drone cerdas pertama di dunia. Kapal ini dirancang untuk meluncurkan dan mengendalikan lebih dari 50 kendaraan tak berawak, baik udara, permukaan, dan bawah laut secara bersamaan guna melakukan survei laut tiga dimensi yang komprehensif.
“Kami tidak akan menoleransi riset ilmiah kelautan ilegal apa pun yang dilakukan tanpa persetujuan pemerintah kami,” ujar Kepala Penjaga Pantai Filipina, Ronnie Gil Gavan, dalam pernyataan tertulisnya.
Filipina dan China memiliki klaim yang saling tumpang tindih di Laut China Selatan, jalur perairan strategis yang diyakini kaya akan sumber daya alam. Negara Asia Tenggara tersebut juga memperkuat hubungan militernya dengan AS guna menjaga klaimnya di wilayah sengketa, yang memicu bentrokan berulang antara kapal China dan Filipina.
(bbn)






























