Logo Bloomberg Technoz

Selama perdagangan minggu ini, harga emas mencatat penurunan 2,06% secara point-to-point. Koreksi genap terjadi selama dua pekan berturut-turut.

Perkembangan di Timur Tengah masih menjadi sorotan pelaku pasar. Perang di Iran belum mencapai kata damai sejak meletus pada akhir Februari lalu.

Terkini, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkapkan kekecewaannya terhadap negosiasi dengan Iran.

“Mereka (Iran) bilang mau mencapai kesepakatan, tetapi saya tidak puas. Kami sudah bicara dengan Iran, kita lihat apa yang terjadi nanti. Namun saya bisa bilang saya tidak senang,” tegas Trump, seperti dikutip dari Bloomberg News.

Perkembangan ini membuat harga minyak masih berada di level tinggi. Selama perdagangan pekan ini, harga minyak jenis brent bertambah 3,32% secara point-to-point.

Tidak hanya minyak, harga komoditas energi lainnya juga menanjak. Pekan ini, harga gas alam terkerek 3,95% dan batu bara terangkat 2,84%.

Jika situasi Timur Tengah tidak kunjung membaik, maka dunia akan dihantui risiko inflasi tinggi akibat kenaikan harga energi. Akibatnya, bank sentral akan kesulitan untuk melonggarkan kebijakan moneter melalui penurunan suku bunga acuan.

Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga belum turun.

“Belum ada keyakinan terhadap arah gerak harga emas dalam jangka pendek, bahkan jangka menengah,” ujar Greg Shearer, Head of Precious and Base Metals Research di JPMorgan Chase & Co, sebagaimana diwartakan Bloomberg News.

(aji)

No more pages