Logo Bloomberg Technoz

Gubernur The Fed Jerome Powell menunjukkan pendekatan yang semakin berhati-hati—tidak terburu-buru menurunkan suku bunga. Namun juga belum sepenuhnya agresif—sebuah sinyal bahwa tekanan inflasi dan risiko global belum sepenuhnya mereda. 

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian menilai di tengah kondisi sekarang, Bank Indonesia perlu mulai menunjukkan bias pengetatan yang lebih kuat sebagai bagian dari upaya menjaga kredibilitas dan meredam tekanan eksternal.

“Respons hawkish dari Bank Indonesia menjadi penting, bukan hanya untuk menahan tekanan nilai tukar, tetapi juga untuk mengelola ekspektasi pasar. Ini bukan soal mengejar The Fed, tetapi soal menjaga kepercayaan terhadap stabilitas domestik," ujar Fakhrul. 

Selain itu, pelaku pasar juga menantikan kepastian arah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), termasuk penyesuaian terhadap program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). 

“Penyesuaian anggaran, termasuk dalam program MBG, menunjukkan bahwa pemerintah responsif terhadap dinamika fiskal dan tidak terjebak dalam rigiditas. Ini penting untuk menjaga kredibilitas APBN di tengah tekanan global yang meningkat," kata Fakhrul. 

Di tengah kondisi ini, BI beberapa kali menyebut bahwa posisi rupiah lebih rendah daripada fundamentalnya, alias undervalued

Secara terpisah, menurut Kepala Ekonom Bank Permata pernyataan BI tersebut memiliki argumen yang cukup kuat. Josua menyebut data nilai tukar riil efektif menunjukkan rupiah berada di bawah titik acuan 100 sejak 2025.

REER rupiah tercatat 94,5 pada Desember 2025, 93,0 pada Januari 2026, 91,4 pada Februari, dan 93,5 pada Maret, sementara rata-rata kurs Maret sekitar Rp16.911 per dolar AS.

REER merupakan nilai tukar efektif riil yang mengukur daya beli riil dan daya saing internasional. 

"Artinya, secara riil rupiah memang sudah lebih lemah dibanding posisi keseimbangan historisnya. Selain itu, fundamental yang menopang rupiah masih ada, yaitu inflasi yang relatif terkendali, cadangan devisa yang masih memadai, permintaan domestik yang belum runtuh, serta pasar SBN dan SRBI yang masih mampu menarik sebagian arus masuk," kata Josua. 

Meski begitu, menurut Josua pasar saat ini lebih banyak memberi bobot pada risiko jangka pendek daripada nilai fundamental, sehingga rupiah bisa tetap melemah walaupun secara riil sudah terlihat murah.

Intervensi BI dan Arah Rupiah

Demi menopang rupiah, BI dalam beberapa kesempatan menegaskan bahwa intervensi akan terus dilakukan dengan meningkatkan intensitas intervensi melalui NDF di pasar luar negeri, transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, pembelian SBN di pasar sekunder, serta penguatan struktur suku bunga instrumen moneter agar aset rupiah tetap menarik.

Namun, intervensi ini sepertinya belum cukup kuat untuk membalikkan arah rupiah secara berkelanjutan. 

Menurut Josua, katalis penguatan perlu datang dari arus masuk asing yang lebih besar ke SBN dan SRBI, komunikasi fiskal yang kredibel, kepastian bahwa subsidi energi terkendali, serta masuknya devisa hasil ekspor ke sistem keuangan domestik. Tanpa kombinasi itu, rebound rupiah kemungkinan hanya bersifat teknis dan mudah berbalik.

Menurut ANZ, BI diperkirakan akan menaikkan suku bunga kebijakan dua kali sebesar 25 basis poin, sehingga suku bunga kebijakan akan mencapai 5,25% pada akhir tahun ini di tengah tekanan mata uang yang terus berlanjut dan inflasi yang lebih tinggi, seperti dikutip dari Bloomberg News

Sebab, proyeksi inflasi akan berada di kisaran 3,5% pada 2026, dari sebelumnya 3% saja. "Ada alasan yang semakin kuat bagi BI untuk melengkapi instrumen stabilisasi non-suku bunga dengan suku bunga kebijakan guna memperkuat stabilitas dan menahan risiko inflasi impor," kata Krystal Tan dan Sanjay Mathur, Ekonom ANZ dalam catatannya. 

Rupiah Overshooting

Di sisi lain, menurut Fakhrul, kondisi pelemahan rupiah saat ini menggambarkan bahwa mata uang Garuda berada dalam fase overshooting. Kondisi ini membawa tekanan nilai tukar bergerak melampaui fundamental jangka pendek dan sedang dalam proses mencari titik keseimbangan baru.

“Rupiah saat ini  sedang berada dalam fase overshooting—mencari kestabilan barunya di tengah tekanan global. Dalam fase seperti ini, pasar membutuhkan sinyal yang jelas bahwa otoritas siap menjaga stabilitas. Begitu BI menunjukkan langkah siap melakukan monetary tightening, siap-siap rupiah akan bisa kembali menguat,” kata Fakhrul, Kamis (30/4/2026). 

Namun jika tidak, maka pada kuartal II 2026, kisaran Rp17.300-17.500/US$ berisiko tercapai. Apalagi jika harga minyak tetap di atas USD110 per barel.

Sebab, permintaan dolar domestik tetap tinggi, dan investor masih berhati-hati terhadap aset negara berkembang. Dengan kata lain, selama tekanan geopolitik belum reda, pasar akan bisa memperlakukan Rp17.300–Rp17.500/US$ sebagai rentang perdagangan jangka pendek.

Namun menurut Josua, apabila minyak turun, maka arus modal juga membaik dan BI bersama pemerintah mampu menurunkan kekhawatiran fiskal, rupiah masih berpeluang kembali ke bawah Rp17.200/US$ dan perlahan mendekati kisaran Rp16.800–Rp17.100/US$. 

(dsp/aji)

No more pages