Logo Bloomberg Technoz

Psikiater Imbau Empati di Balik Tragedi Kereta Bekasi

Dinda Decembria
29 April 2026 14:20

Petugas bekerja di gerbong KRL yang bertabrakan di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Krisrianto)
Petugas bekerja di gerbong KRL yang bertabrakan di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Krisrianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Psikiater dari RS Jiwa dr. H. Marzoeki Mahdi, Lahargo Kembaren, mengingatkan masyarakat untuk mengedepankan empati dalam menyikapi tragedi tabrakan kereta di Bekasi. Ia menilai, peristiwa tersebut bukan sekadar bahan konsumsi publik, melainkan pengalaman traumatis bagi para korban dan keluarga.

Menurutnya, insiden yang melibatkan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek merupakan peristiwa besar yang menyisakan dampak psikologis luas. Tidak hanya bagi korban meninggal dan luka-luka, tetapi juga bagi penumpang selamat yang mengalami syok, hingga keluarga yang menunggu kabar dengan penuh kecemasan.

“Tragedi seperti ini bukan sekadar berita, tetapi pengalaman traumatis nyata bagi korban, keluarga, saksi, bahkan masyarakat luas yang menyaksikannya melalui media sosial,” ujar Lahargo dalam keterangan tertulis, Rabu (29/4).


Ia menegaskan bahwa dalam situasi bencana, empati seharusnya lebih diutamakan dibandingkan dengan dorongan untuk menjadi yang pertama menyebarkan informasi demi viralitas. Menurutnya, musibah bukanlah tontonan, melainkan penderitaan nyata yang harus dihormati.

Lahargo mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarkan foto atau video korban, terutama yang bersifat vulgar dan memperlihatkan kondisi mengenaskan. Ia menyebut, tindakan tersebut justru dapat memperparah penderitaan, terutama bagi keluarga korban.