Logo Bloomberg Technoz

Sebagai gantinya, ia menyarankan bentuk empati yang lebih bijak seperti menyampaikan doa dan belasungkawa, membagikan informasi resmi, membantu pencarian informasi keluarga korban, serta menjaga privasi para korban dan keluarganya.

Ia juga menyoroti dampak psikologis serius dari penyebaran konten tragis. Bagi keluarga korban, paparan gambar atau video dalam kondisi mengenaskan dapat memicu trauma berlapis atau secondary victimization, yang memperparah proses berduka.

“Dampaknya bisa berupa syok emosional lebih berat, gangguan tidur, rasa marah, hingga berujung pada gangguan seperti kecemasan, depresi, dan PTSD,” jelasnya.

Sementara bagi masyarakat luas, paparan berulang terhadap konten tragis dapat memicu trauma kolektif atau secondary trauma. Kondisi ini dapat menimbulkan kecemasan berlebih, mimpi buruk, hingga ketakutan menggunakan transportasi umum.

Lahargo menekankan, efek tersebut bahkan bisa lebih berat pada anak-anak, remaja, atau individu dengan riwayat gangguan kecemasan. Dalam jangka panjang, masyarakat berisiko hidup dalam rasa takut yang terus dipelihara oleh arus informasi yang tidak terkendali.

Ia pun mengajak publik untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan tidak menjadikan tragedi sebagai konsumsi digital. Menurutnya, empati tidak diukur dari kecepatan membagikan informasi, melainkan dari kemampuan menjaga perasaan mereka yang sedang berduka.

“Kadang, bentuk perhatian paling manusiawi adalah menahan diri. Tidak semua hal harus diviralkan, beberapa cukup didoakan dan dihormati,” tutupnya.

(dec)

No more pages