Angka ini melampaui platform lain seperti WhatsApp dan Instagram yang berada di posisi kedua dan ketiga dengan selisih cukup jauh.
Bahkan, nilai kerugian dari Facebook saja tercatat lebih besar dibanding total kerugian dari penipuan berbasis teks (SMS) maupun email.
Secara agregat, laporan juga menunjukkan sebagian besar kerugian penipuan media sosial terkait dengan aplikasi dalam ekosistem Meta.
FTC menjelaskan, media sosial memberi kemudahan bagi pelaku untuk menjangkau miliaran pengguna dengan biaya rendah. Pelaku memanfaatkan iklan tertarget, akun palsu, hingga grup komunitas untuk membangun kepercayaan korban.
Jenis penipuan paling sering dilaporkan adalah penipuan belanja, dengan lebih dari 40% korban tertipu setelah membeli produk dari iklan di media sosial. Namun dari sisi nilai kerugian, penipuan investasi menjadi yang paling besar, mencapai sekitar US$1,1 miliar atau lebih dari separuh total kerugian.
FTC juga menegaskan bahwa hampir semua kelompok usia terdampak, dengan media sosial menjadi sumber kerugian terbesar untuk hampir seluruh kelompok umur, kecuali lansia di atas 80 tahun.
"Media sosial adalah metode kontak penipuan yang paling mahal tahun lalu, dalam hal agregat kerugian yang dilaporkan untuk setiap kelompok usia di bawah 80 tahun."
(mef/wep)































