Navigasi Bisnis 2026: Sektor F&B Jadi Primadona
Redaksi
27 April 2026 14:10

Bloomberg Technoz, Jakarta - Tahun 2026 menjadi periode krusial bagi perempuan pengusaha di Indonesia. Di tengah dominasi perempuan yang mengelola lebih dari 60% UMKM, kini muncul tantangan baru mulai dari hambatan akses pembiayaan hingga ancaman serbuan produk impor akibat perjanjian dagang internasional.
Ekonom INDEF, Sia Nawir, menyoroti implementasi perjanjian dagang Amerika Serikat-Indonesia (ART) yang memberlakukan tarif 0% bagi sebagian produk Negeri Paman Sam. "Artinya, produk lokal akan berhadapan langsung dengan barang AS yang lebih murah. Pengusaha kita harus segera melakukan upgrade standar produk, sertifikasi, dan riset pasar sebelum pasar domestik dikuasai rival," kata Sia dalam acara Women Founders Indonesia 2026 by ELLE Magazine, Economic Outlook 2026: Navigating Growth & Sustainability.
F&B Sebagai Sektor Penyelamat
Meskipun sektor otomotif dan furnitur mengalami kelesuan, sektor makanan dan minuman (F&B) diprediksi tetap menjadi primadona. Hal ini didorong oleh prioritas kebijakan pemerintah melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), perubahan perilaku konsumsi generasi Milenial dan Gen Z yang lebih mengutamakan pengalaman (experience) dan gaya hidup seperti kopi dan kuliner.
Tissa Aunilla, Co-Founder Pipiltin Cocoa, membagikan strategi praktis dalam menghadapi kenaikan harga bahan baku impor seperti pistachio. Alih-alih hanya mengeluh soal kondisi terkini, ia memilih melakukan edukasi pelanggan. "Kami membuat video edukasi mengapa harga naik. Transparansi membantu menjaga kepercayaan pelanggan di tengah ketidakpastian," ungkapnya.
Hambatan Literasi Keuangan
Selain faktor eksternal, tantangan internal terkait literasi keuangan masih membayangi pengusaha perempuan. Ketergantungan pada keterlibatan suami untuk akses pembiayaan formal menjadi kendala yang harus segera diurai melalui penguatan regulasi yang lebih inklusif.



























