Logo Bloomberg Technoz

Sekadar informasi, Vale saat ini tengah mengembangkan tiga tambang besar tersebar di Bahodopi, Pomalaa, dan Sorowako yang dikombinasikan dengan pembangunan fasilitas HPAL. Tiga proyek jumbo ini memiliki nilai investasi mencapai US$8,5 miliar.

Berdasarkan data per April 2026, proyek Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa menjadi sorotan karena nilai investasinya yang terbesar, mencapai US$4,5 miliar, melalui kolaborasi dengan Ford dan Huayou.

Hingga saat ini, progres konstruksi pabrik HPAL di lokasi tersebut telah mencapai 65%, sementara pembangunan sektor tambang menyentuh 72%.

Proyek tersebut diklaim menyerap lebih dari 5.000 tenaga kerja dan ditargetkan mulai berproduksi pada Agustus 2026 dengan kapasitas sebanyak 120.000 ton mixed hydroxide precipitate (MHP) per tahun.

Sementara itu, proyek smelter IGP Morowali telah memasuki progres operasional. Blok Bahodopi dengan luas 22.699 hektare (ha) dilaporkan telah mulai beroperasi sejak kuartal I-2025.

Untuk sektor tambang, konstruksi fase 1 telah mencapai 100% dan kini perusahaan berfokus pada persiapan penyelesaian fase 2 yang ditargetkan rampung pada 2027. Vale mengungkapkan pada awal 2026 telah terdapat 2,2 juta ton bijih yang terjual dari proyek tersebut.

Sementara itu, progres pembangunan pabrik HPAL hasil kemitraan dengan GEM dan EcoPro berkapasitas 66.000 ton per tahun MHP telah mencapai 27% dan ditargetkan mulai beroperasi pada tahun nini. Total investasi proyek ini mencapai US$2 miliar.

Adapun, di Sulawesi Selatan, Vale bersama Huayou tengah mengembangkan proyek IGP Sorowako Limonite di Blok Sorowako seluas 70.566 hektar untuk mendukung hilirisasi nikel limonit.

Pembangunan tambang per April 2026, telah mencapai 42%, sedangkan progres pabrik HPAL berada di angka 18%. Fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi 60.000 ton MHP per tahun dan ditargetkan beroperasi penuh pada 2027.

Adapun, sekitar 50% pasokan sulfur dunia atau sekitar 20 juta ton per tahun berasal dari wilayah Teluk Persia di Timur Tengah.

Ekspor sulfur Timur Tengah ke Indonesia./dok. BMI


Negara-negara eksportir utama meliputi Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait, dan Iran. Sulfur yang berasal dari negara tersebut harus melewati Selat Hormuz untuk mencapai pasar global.

Dalam riset Shanghai Metal Market (SMM), lebih dari 75% impor sulfur indonesia pada 2025 berasal dari Timur Tengah. SMM memprediksi penutupan Selat Hormuz memengaruhi biaya produksi dan stabilitas pasokan MHP Indonesia.

Lebih lanjut, SMM memprediksi Indonesia bakal bersaing dengan pembeli global untuk pasokan sulfur dari negara-negara di luar Timur Tengah yang pasokannya cukup terbatas.

Selain itu, kenaikan premi asuransi dan meningkatnya biaya pengiriman akibat pengalihan rute akan makin mendongkrak landed cost atau total biaya logistik.

Lebih lanjut, lebih dari 75% impor sulfur Indonesia pada 2025 berasal dari Timur Tengah. Sulfur tersebut banyak dimanfaatkan untuk industri pengolahan nikel utamanya smelter hidrometalurgi berbasis HPAL.

Pada 2025, Arab Saudi menjadi pemasok terbesar sekitar 1,76 juta ton, Qatar sebanyak 967.000 ton, UEA 918.000 ton, Kanada 515.000 ton, Kuwait 366.000 ton, Malaysia 146.000 ton, dan Singapura sebesar 115.000 ton.

“Lebih dari 75% impor belerang Indonesia pada 2025 berasal dari Timur Tengah. Struktur pasokan yang sangat terkonsentrasi ini berarti bahwa setelah penutupan Selat Hormuz, sumber bahan baku utama untuk proyek MHP Indonesia akan terputus,” tulis SMM.

Sulfur sendiri digunakan sebagai bahan baku dalam produksi produk antara nikel seperti MHP, melalui proses pelindian asam bertekanan tinggi. Memproduksi 1 ton MHP membutuhkan sekitar 11,7 ton sulfur. Adapun, MHP merupakan bahan baku baterai kendaraan listrik.

(azr/wdh)

No more pages