“Coba Anda tanya ke bank sentral kenapa seperti itu. Mungkin saya bukan ahlinya di sini. Tapi yang jelas adalah fondasi ekonomi kita tidak berubah, bahkan akan semakin cepat karena kita serius memperbaiki kendala-kendala struktural,” tegasnya.
Di sisi lain, Purbaya menyebut perkembangan nilai tukar rupiah masih masuk dalam skenario yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Pemerintah juga memastikan defisit Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara (APBN) masih akan berada di bawah ambang batas 3%.
”Jadi, masih masuk [skenario]. Kalau perlu, nanti ya kita bikin APBN-P [APBN Perubahan]. Tapi, sekarang, belum cukup untuk men-trigger itu. Jadi, masih aman,” tutur dia.
Adapun berdasarkan asumsi makroekonomi APBN 2026, pemerintah memproyeksikan nilai tukar rupiah akan mencapai Rp16.500/US$.
Masih di Atas Rp17.200/US$
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Jumat (24/4/2026) sore tercatat menguat 0,52% ke Rp17.205/US$. Sepanjang pekan ini rupiah telah melemah 0,9%, melanjutkan tren pelemahannya selama sebulan yang mencapai 1,28%.
Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama kembali menguat di level 98, seiring naiknya harga minyak di atas US$100/barel.
Hal ini membebani mata uang di kawasan, termasuk rupiah. Namun, bagi rupiah, beban eksternal diperparah oleh kondisi domestik yang masih terganjal oleh sentimen terkait fiskal.
Sehingga, penguatan rupiah kemarin lebih mencerminkan koreksi teknikal jangka pendek, ketimbang perubahan fundamental.
(mfd)
























