Logo Bloomberg Technoz

IHSG bergabung bersama Bursa Asia yang menetap di zona merah, index SENSEX (India), Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), PSEI (Filipina), Shenzhen Comp. (China), Straits Times (Singapura), SETI (Thailand), CSI 300 (China), Shanghai Composite (China), KLCI (Malaysia), dan Kospi (Korea Selatan), yang melemah dan tertekan masing–masing mencapai 1,27%, 0,91%, 0,67%, 0,6%, 0,43%, 0,36%, 0,35%, 0,33%, 0,08%, dan 0,01%.

Sementara hanya TW Weighted Index (Taiwan), NIKKEI 225 (Jepang), Hang Seng (Hong Kong), dan Topix (Jepang) yang menguat 3,23%, 0,97%, 0,24%, dan 0,01% hari ini.

Dengan demikian, IHSG adalah indeks dengan pelemahan terdalam dan paling amblas di Bursa Saham Asia.

Adapun melemahnya pasar saham Indonesia merupakan efek langsung dari tertekannya sejumlah saham big caps, terutama pada penutupan perdagangan hari ini.

Berikut diantaranya berdasarkan data Bloomberg, Jumat (24/4/2026).

  1. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengurangi 35,28 poin
  2. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mengurangi 20,37 poin
  3. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mengurangi 14,17 poin
  4. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mengurangi 11,48 poin
  5. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mengurangi 10,21 poin
  6. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) mengurangi 9,6 poin
  7. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mengurangi 8,29 poin
  8. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mengurangi 7,34 poin
  9. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mengurangi 6,86 poin
  10. PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) mengurangi 6,75 poin

Terlebih lagi, IHSG tersengat sentimen tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, adapun sepanjang minggu ini rupiah telah melemah 0,9% point–to–point, melanjutkan tren pelemahannya selama sebulan yang mencapai 1,28% ptp.

Depresiasi rupiah menjadi sentimen negatif yang berat bagi IHSG. Tutup dagang hari ini, rupiah terbilang amat lesu di hadapan dolar Amerika Serikat. US$1 setara dengan Rp17.205.

Tekanan utama masih datang dari kombinasi global dan domestik yang belum mereda.

Rupiah terjepit lantaran kenaikan harga minyak mentah Brent terus melonjak, melejit nyaris 10% dalam tiga hari perdagangan– menyentuh level harga US$107,33 per barel, berdasarkan data realtime Bloomberg per 17:00 WIB.

Harga Minyak Brent Terus Menanjak. Sumber: Bloomberg

Kenaikan harga minyak bukan tanpa alasan, ketidakpastian yang terus meningkat di pasar menyusul pernyataan terbaru Presiden AS Donald Trump terhadap eskalasi konflik Timur Tengah.

Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, harapan Iran kembali ke meja perundingan damai dengan Amerika Serikat (AS) terancam kandas. 

Sejumlah pejabat yang memahami upaya diplomatik tersebut mengungkapkan ancaman dan unggahan agresif Donald Trump di media sosial menjadi faktor utama yang menghambat proses tersebut.

Efek langsungnya, tingginya harga minyak diproyeksikan dapat menambah tekanan neraca transaksi berjalan dan menggerus ketahanan fiskal. Beban subsidi akibat kenaikan harga minyak juga diestimasikan menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2026.

Sebab, dalam asumsi APBN harga minyak berada di US$70 per barel, sementara harga minyak per saat ini bertengger di atas US$100 per barel. 

Sehingga setiap kenaikan minyak US$1 per barel berpotensi menambah beban subsidi dan kompensasi energi senilai Rp10 triliun hingga Rp13 triliun per tahun.

Dengan begitu, pasar amat mencermati arah kebijakan fiskal yang dinilai berisiko memperlebar defisit, sekaligus menambah beban pembiayaan pemerintah.

(fad)

No more pages