Dinamika ini membuat harga minyak kembali menanjak. Kemarin, harga minyak jenis brent melesat 3,1% ke US$ 105,07/barel, tertinggi sejak 7 April.
Harga minyak yang melambung akan membuat dunia terancam mengalami inflasi tinggi. Alhasil, bank sentral di berbagai negara akan kesulitan untuk melonggarkan kebijakan moneter melalui penurunan suku bunga acuan.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga masih tinggi.
“Pasar emas masih akan hati-hati dan volatil. Pelaku pasar masih enggan menaruh porsi besar di tengah situasi geopolitik yang ‘kejang-kejang’,” sebut Rhona O’Connell, Head of Market Analysis for EMA and Asia di StoneX Group, dalam catatannya.
Analisis Teknikal
Jadi bagaimana prediksi gerak harga emas untuk hari ini, Jumat (24/4/2026)? Apakah bisa bangkit atau makin terjepit?
Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), emas menghuni zona bearish. Terlihat dari Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 46.
RSI di bawah 50 menandakan suatu aset sedang dalam posisi bearish. Namun RSI emas belum jauh dari 50 sehingga bisa dikatakan cenderung netral.
Sedangkan indikator Stochastic RSI 14 hari sudah menyentuh nol. Paling kecil, sudah sangat jenuh jual (oversold).
Untuk perdagangan hari ini, harga emas sebenarnya berpeluang naik. Syaratnya, mungkin harus melewati pivot point US$ 4.736/troy ons terlebih dulu.
Dari situ, harga emas berpotensi menguji resisten US$ 4.742/troy ons yang merupakan Moving Average (MA) 5. Resisten lanjutan ada di MA-10 yaitu US$ 4.770/troy ons.
Target paling optimistis atau resisten terjauh ada di US$ 4.829/troy ons.
Namun kalau harga emas turun lagi, maka US$ 4.672/troy ons rasanya bisa menjadi target support terdekat. Penembusan di titik ini berisiko melongsorkan harga ke rentang US$ 4.636-4.631/troy ons.
(aji)





























