“Masalah utamanya tetap berada di Selat Hormuz. Sulit untuk melihat bagaimana AS dan Iran bisa mencapai kesepakatan jika kedua belah pihak mempertahankan posisi maksimalis mereka,” ujar Sameer Samana, kepala ekuitas global dan aset riil di Wells Fargo Investment Institute. “Ini berarti situasi kemungkinan akan memburuk sebelum akhirnya membaik.”
Laporaan Keuangan
Di tengah ketidakpastian geopolitik, musim laporan laba perusahaan tetap berlanjut. Saham Texas Instruments Inc melonjak 19% setelah produsen cip tersebut memberikan proyeksi yang jauh lebih kuat dari perkiraan, didorong oleh tingginya belanja pada pusat data dan peralatan industri.
Steve Sosnick dari Interactive Brokers menilai reaksi positif terhadap kinerja Texas Instruments memberikan alasan bagi investor untuk kembali memfavoritkan sektor teknologi dan semikonduktor. Menurutnya, laba yang kuat ini mampu mengimbangi berita negatif terkait blokade di Teluk Persia.
Saham Tesla Inc turun 3,6% setelah mengumumkan rencana belanja tambahan miliaran dolar tahun ini untuk ambisinya menjadi perusahaan robotika dan kecerdasan buatan (AI). Tesla menyebut belanja modal pada 2026 akan melebihi US$25 miliar, atau sekitar tiga kali lipat dari pengeluaran tahun lalu.
Honeywell International Inc turun 2,6% setelah menyatakan bahwa perang di Timur Tengah menekan pendapatan mereka, terutama pada unit otomatisasi proses yang melayani pelanggan industri energi. International Business Machines Corp (IBM) juga anjlok 8,3% karena hasil kuartalan unit perangkat lunaknya gagal meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan AI pada bisnis mereka.
Saham Southwest Airlines Co merosot 4,1% setelah perusahaan menolak memperbarui panduan laba tahunan mereka, di tengah tekanan kenaikan harga bahan bakar akibat perang Iran.
(bbn)
























