“Kemudian juga menarik dari instrumen di operasi moneter BI juga, kami punya data terkait dengan instrumen SVBI, SVBI yaitu Surat Berharga Valas Bank Indonesia. Kami juga melihat di bulan April ini terjadi peningkatan yang cukup signifikan yaitu sekitar Rp400 juta dolar,” bebernya.
Dia menjelaskan, kondisi likuiditas dolar di dalam negeri masih tergolong cukup (ample), sehingga akan memberikan daya tahan terhadap nilai tukar Rupiah ke depannya.
“Dan sekali lagi saya ingin tekankan bahwa BI akan terus berada di market 24 jam, baik itu di pasar Indonesia, kemudian di offshore, baik itu di Eropa, Amerika, dan juga pasar global lainnya. Semua kita upayakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” jelas dia.
Tercatat hingga 20 April 2026, aliran modal kembali mencatat net inflow sebesar US$1,9 miliar, terutama ditopang oleh aliran masuk modal asing ke SRBI dan SBN didorong oleh peningkatan imbal hasil di kedua instrumen.
Sebagai informasi, BI mencatat posisi instrumen moneter SRBI pada 21 April 2026 sebesar Rp885,41 triliun, antara lain didukung dengan kepemilikan nonresiden yang mencapai Rp165,98 triliun (18,75% dari total outstanding) sehingga turut mendukung upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
(mfd/ell)




























