Selain itu, sidang ini juga dibayangi ketidakpastian besar mengenai kapan Kevin Warsh akan mulai menjabat.
Seorang anggota komite dari Partai Republik yang berpengaruh, Senator Thom Tillis dari North Carolina, sebelumnya berjanji tidak akan menyetujui penunjukan apa pun hingga penyelidikan DoJ beres, yang secara efektif menghalangi jalan Kevin Warsh menuju pengukuhan dan menimbulkan keraguan apakah ia akan menjabat saat masa jabatan Powell sebagai Gubernur berakhir pada 15 Mei.
Titik awal tersebut membuat Kevin Warsh harus menghadapi dua tantangan sekaligus: Menunjukkan tingkat kesetiaan tertentu terhadap tuntutan Trump terkait kebijakan moneter, sekaligus meyakinkan para investor yang cemas bahwa ia berkomitmen untuk menjaga kendali atas inflasi.
Perubahan arah kebijakan
Pertanyaan utama yang kemungkinan akan dihadapi Kevin Warsh adalah bagaimana dia akan menanggapi tekanan dari Trump. Presiden AS ini dianggap melanggar tradisi para pendahulunya yang secara terbuka mengkritik Powell, setelah menominasikannya untuk jabatan tersebut pada 2017, dan telah mengambil langkah-langkah spektakuler untuk mencoba mempengaruhi The Fed.
Senator Elizabeth Warren, pemimpin fraksi Demokrat di komite perbankan, mengirim surat kepada Kevin Warsh pada bulan Februari yang menanyakan apakah Trump telah menuntut janji kesetiaan sebagai bagian dari proses pemeriksaan untuk pencalonan tersebut. Ia juga berpendapat bahwa Kevin Warsh akan menjadi “boneka” presiden kelak.
Pandangan kebijakan Warsh di masa lalu kemungkinan akan menjadi bahan serangan bagi Partai Demokrat. Sebagai pendukung lama kebijakan suku bunga tinggi untuk menekan inflasi, ia tampaknya mengubah pendekatannya pada tahun 2025 setelah Trump kembali menjabat dan masa jabatan kedua Powell semakin mendekati akhir. Pada bulan Juli, ia menyatakan di Fox Business bahwa The Fed seharusnya menurunkan suku bunga.
Pandangan lebih luas
Sidang pada hari Selasa akan menjadi pertama kalinya Kevin Warsh memberikan gagasannya secara terbuka terkait suku bunga sejak pencalonannya — dan sejak perang di Iran memicu lonjakan harga energi yang telah mendorong kenaikan inflasi.
Guncangan terbaru ini membantu meyakinkan pejabat Fed untuk menunda pemotongan suku bunga, setelah menurunkannya tiga kali pada akhir tahun lalu. Fed secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tetap saat para pejabat bertemu minggu depan. Para investor saat ini tidak melihat kemungkinan pemotongan suku bunga setidaknya hingga Desember.
Untuk Kevin Warsh, dampak perang terhadap harga energi mungkin melemahkan kemampuannya untuk mengajukan argumen yang kredibel mengenai pemotongan suku bunga dalam waktu dekat.
Matthew Luzzetti, Kepala Ekonom AS di Deutsche Bank, mengatakan bahwa Kevin Warsh dapat menyampaikan alasan mengapa suku bunga bisa lebih rendah setahun dari sekarang, dengan mengacu pada potensi faktor-faktor yang dapat menekan inflasi seperti AI dan deregulasi, serta meredanya tekanan harga di sektor perumahan.
Dalam beberapa bulan jelang penunjukannya, Kevin Warsh memaparkan argumen berlapis-lapis untuk pemotongan suku bunga, yang berpusat pada dampak lonjakan produktivitas AS dan penyusutan neraca Fed — kekuatan-kekuatan yang akan membutuhkan waktu untuk terwujud.
“Pada saat yang sama, pasar akan mencari dukungan yang kuat untuk kemandirian The Fed,” kata Luzzetti.
Saat Kevin Warsh gagal memberikan itu atau memicu kekhawatiran bahwa dirinya akan bergerak untuk memotong suku bunga secara tidak tepat, hal itu bisa berbalik merugikan, kata Luzzetti, dengan memicu kekhawatiran pasar tentang inflasi di masa depan dan mendorong kenaikan suku bunga jangka panjang, yang tidak dikendalikan oleh The Fed.
Menteri Keuangan Scott Bessent tampaknya meredakan tekanan terhadap Kevin Warsh pekan lalu, dengan mengatakan kepada CNBC pada 15 April bahwa ia akan memahami jika pejabat Fed ingin menunda pemotongan suku bunga. Namun, Trump langsung mengembalikan tekanan tersebut keesokan harinya saat ditanya apakah ia setuju dengan Bessent. “Tidak, saya tidak setuju,” kata presiden kepada wartawan. “Saya pikir suku bunga seharusnya lebih rendah.”
(bbn)




























