Logo Bloomberg Technoz

Penguatan yang terjadi pada rupiah hari ini lebih bersifat sementara dan belum menunjukkan perubahan tren yang signifikan. Depresiasi rupiah diperkirakan masih bisa berlanjut di rentang sempit Rp17.150/US$ hingga Rp17.270/US$. 

Bukan tanpa sebab, kondisi domestik masih membuat investor khawatir, terutama terkait fiskal. Apalagi, S&P Global Ratings kembali memberi proyeksi jika perang berlangsung secara berkepanjangan dan menyebabkan harga energi naik, maka beban biaya subsidi menjadi semakin berat.

Selain itu, biaya impor minyak yang lebih mahal akan memperlebar defisit neraca transaksi berjalan. Begitu juga dengan tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi, menambah risiko terjadinya kenaikan suku bunga pasar. Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya pinjaman pemerintah dan semakin memperberat beban fiskal.

Sebelumnya, pada Februari S&P Ratings juga telah memperingatkan soal tekanan fiskal yang dapat meningkatkan risiko penurunan profil kredit Indonesia. 

Sebagai catatan, rupiah telah terdepresiasi 2,6% dan menempati posisi kedua terlemah, hanya lebih baik dari rupee India yang jeblok 3,64%. 

(dsp/aji)

No more pages