Data Bursa Efek Indonesia memperhitungkan nilai perdagangan mencapai Rp22,61 triliun dari sejumlah 51,43 miliar saham yang ditransaksikan. Dengan frekuensi yang terjadi 3,16 juta kali diperjualbelikan.
Tercatat sejumlah 380 saham berhasil menguat, dan sebanyak 292 saham terjadi pelemahan. Sisanya 149 saham stagnan.
Saham–saham big caps menjadi pemberat IHSG sepanjang perdagangan siang hari ini, ditambah lagi pelemahan saham BBCA, saham BBRI, hingga saham TLKM yang amat dalam. Saham kesehatan, saham infrastruktur, dan saham konsumen non primer juga melemah masing–masing 2,81%, 1,33% dan juga 0,99%.
Saham big caps yang jadi pemberat IHSG hingga menempati top losers,
- Bank Central Asia (BBCA) mengurangi 18,82 poin
- Mayapada Hospital (SRAJ) mengurangi 9,72 poin
- Bank Rakyat Indonesia (BBRI) mengurangi 9,45 poin
- MNC Digital Entertainment (MSIN) mengurangi 6,28 poin
- Chandra Asri Pacific (TPIA) mengurangi 5,19 poin
- Bank Mandiri (BMRI) mengurangi 4,71 poin
- Amman Mineral Internasional (AMMN) mengurangi 3,81 poin
- Bumi Resources (BUMI) mengurangi 3,45 poin
- Barito Pacific (BRPT) mengurangi 3,39 poin
- Telkom Indonesia (TLKM) mengurangi 3,14 poin
Sejumlah saham LQ45 unggulan lainnya juga menjadi pemberat laju IHSG, saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang turun 1,87%, saham PT Indosat Tbk (ISAT) amblas 1,43%, dan juga saham PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) melemah 1,41%.
Senada, saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) drop 1,02%, saham PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) melemah 0,99%, dengan saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) terpeleset 0,79% hingga menjadi pemberat IHSG.
Kinerja Bursa Asia justru berhasil melenggang di zona hijau. Indeks KOSDAQ Korea Selatan melejit 2,72%, KOSPI Korea Selatan melesat 2,07%, SENSEX India meninggi 1,56%, TAIEX Taiwan menguat 1,17%, NIKKEI 225 melesat 0,44%, TOPIX Jepang meninggi 0,4%, FTSE Straits Times Singapura menguat 0,27%, dan Shanghai Comp. China menghijau 0,01%.
Mengulas dampak konflik berkepanjangan di Timur Tengah, kenaikan biaya energi diproyeksikan akan meningkatkan biaya subsidi Indonesia dan menekan anggaran negara. Di sisi lain, impor minyak yang lebih mahal akan memperlebar defisit transaksi berjalan.
S&P juga menilai percepatan inflasi dapat mendorong kenaikan suku bunga pasar yang pada ujungnya meningkatkan biaya pinjaman pemerintah.
Terlebih lagi, rupiah diprediksi akan sulit menguat secara berkelanjutan.
“Pelemahan rupiah punya efek menaikkan persepsi risiko, jadi tekanan kurs bukan hanya soal utang lama, tetapi juga soal berapa mahal biaya pembiayaan berikutnya,” kata Josua Pardede, Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI).
Kendati demikian, Josua menilai Indonesia masih tetap aman dan tidak memiliki ancaman gagal bayar dalam waktu dekat. Lantaran Bank Indonesia (BI) masih memiliki cadangan devisa sebesar US$148,3 miliar, atau setara dengan 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri.
(fad)






























