Logo Bloomberg Technoz

Di sisi lain, arah kebijakan pemerintah juga menjadi faktor penentu. Pergeseran prioritas akibat tekanan geopolitik, kompleksitas standar syariah dan ESG, serta risiko greenwashing berpotensi menahan laju pertumbuhan pasar. 

Fitch menilai, secara struktur sukuk ESG masih memegang peranan penting dengan porsi sekitar 12% dari total sukuk global berdenominasi dolar AS. 

Di pasar negara berkembang, di luar China, kontribusinya terhadap utang ESG bahkan meningkat menjadi 20% pada awal 2026, meski secara penerbitan pangsa pasarnya justru tercatat menurun menjadi 15%, dibanding kuartal yang sama tahun lalu 45%. 

Sebagai catatan, nilai outstanding sukuk ESG global relatif stagnan di kisaran US$58 miliar. Aktivitas penerbitan juga masih cenderung terbatas, hanya ada satu penerbitan dalam denominasi dolar AS dari bank Arab Saudi pada Januari, sementara selebihnya berasal dari Malaysia dalam mata uang ringgit. 

Dari sisi investor, bank syariah masih mendominasi dengan strategi buy-and-hold. Namun, sejak konflik Timur Tengah pecah pada awal Maret 2026, investor global mulai melakukan penyesuaian portofolio secara taktis. 

Hal ini telah menyebabkan spread utang di kawasan teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) ke level tertinggi dalam lima tahun.

"Sukuk ESG dengan peringkat investment-grade tetap lebih likuid dibandingkan sukuk ESG berperingkat spekulatif, meskipun likuiditasnya menurun signifikan sejak perang dimulai," tandas laporan itu. 

(dsp/aji)

No more pages