Peningkatan pendapatan Rusia sangat terlihat saat harga dihitung dalam mata uang lokal, karena kenaikan tersebut berarti lebih banyak rubel untuk setiap barel yang dikenai pajak. Harga rata-rata Urals pada Maret melonjak menjadi 6.191 rubel, menurut perhitungan Bloomberg berdasarkan data pemerintah yang memperhitungkan angka Argus.
Jika harga jual rata-rata sepanjang April ini tetap terjaga—dan nilai tukar tetap di level saat ini—harga Urals akan melonjak menjadi sekitar 8.300 rubel bulan ini, tertinggi sejak Maret 2022, menyusul invasi skala penuh Rusia ke Ukraina.
Setiap kenaikan satu dolar pada harga tahunan Urals menambah sekitar 150 miliar rubel, atau sekitar US$2 miliar, pada pendapatan pajak negara dari industri minyak dan gas, kata Olga Belenkaya, ekonom Finam di Moskwa. Pada April saja, pendapatan Rusia dari sektor ini diperkirakan mencapai 900 miliar hingga 950 miliar rubel, naik dari 617 miliar rubel pada Maret.
Meski menuai keuntungan dari perang di Timur Tengah, Rusia juga terus menderita serangan berulang dari Ukraina terhadap infrastruktur minyaknya, yang dapat merusak keuntungan yang baru-baru ini diperolehnya. Dampak serangan tersebut dapat terlihat pada pendapatan dari pajak ekstraksi mineral, yang didasarkan pada volume produksi.
Rusia "mungkin akan kesulitan meningkatkan produksi di atas level awal kuartal pertama dalam waktu dekat mengingat kerusakan pada infrastruktur pelabuhan dan energi," kata Badan Energi Internasional dalam laporan pada Selasa.
IEA memperkirakan produksi minyak mentah harian negara tersebut pada Maret hanya sebesar 9 juta barel, atau 230.000 barel lebih rendah dari tahun sebelumnya. Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) memperkirakan produksi Rusia sebesar 9,167 juta barel per hari, stagnan setelah tiga bulan mengalami penurunan.
(bbn)




























