Logo Bloomberg Technoz

Harga minyak mentah Brent merosot hampir 5% ke bawah US$95 per barel pada Selasa. Penurunan ini terjadi setelah Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan bahwa perang akan menghapus pertumbuhan permintaan minyak global untuk pertama kalinya sejak pandemi 2020. Sementara itu, dolar AS mencatatkan pelemahan hari ketujuh berturut-turut, sedangkan obligasi pemerintah (Treasury), emas, dan sebagian besar logam industri justru menguat.

Para pelaku pasar juga fokus pada laporan laba kuartal pertama di tengah kekhawatiran dampak perang terhadap ekonomi. Saham JPMorgan Chase & Co sedikit melemah meski mencetak rekor pendapatan perdagangan kuartalan. Sebaliknya, Citigroup Inc menguat setelah melaporkan imbal hasil kuartalan tertinggi dalam lima tahun.

Perusahaan investasi raksasa BlackRock Inc juga mencatatkan aliran masuk dana bersih sebesar US$130 miliar pada kuartal pertama. Dana investor terus mengalir meski pasar dihantui volatilitas dan ketidakpastian berkepanjangan akibat perang di Iran. Saham BlackRock naik 3%.

"Laba perusahaan adalah penggerak siklus ekonomi, dan sejauh ini ekspektasi laba global belum terpukul," kata Tom Fahey, co-director strategi makro di Loomis Sayles.

Sementara itu, harga grosir AS naik lebih rendah dari perkiraan pada Maret, meskipun terjadi lonjakan biaya energi terkait perang Iran, menurut data Bureau of Labor Statistics. Indeks harga produsen naik 0,5%, sementara ukuran inti yang tidak memasukkan makanan dan energi hanya naik 0,1%. Para ekonom sebelumnya memperkirakan kenaikan 1,1% dibanding bulan sebelumnya.

Data tersebut mengikuti laporan pekan lalu yang menunjukkan harga konsumen AS melonjak pada Maret akibat kenaikan tajam harga bensin, meskipun inflasi inti tercatat lebih rendah dari perkiraan.

“Perusahaan terus menunjukkan ketahanan yang luar biasa di tengah tantangan rantai pasok, tarif, dan kini energi,” kata kepala strategi investasi Global X ETFs Scott Helfstein. “Ini seharusnya memberikan keyakinan bagi investor.”

Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini akibat perang di Timur Tengah dan memasukkan kemungkinan perlambatan jika konflik berkepanjangan serta infrastruktur energi mengalami kerusakan serius.

Di Asia, pejabat Bank Sentral Jepang (BoJ) kemungkinan akan mempertimbangkan kenaikan tajam proyeksi inflasi dalam rapat kebijakan bulan ini, terutama untuk mencerminkan tingginya harga minyak, menurut laporan Bloomberg.

(bbn)

No more pages