Logo Bloomberg Technoz

Gagasan besar ini lahir dari kebutuhan nyata untuk mengatasi permasalahan ekonomi, sosial, dan lingkungan yang melanda Indramayu, khususnya di wilayah Desa Balongan, Kelurahan Lemahmekar, dan Kelurahan Karangmalang yang lokasinya berdekatan dengan Kilang Balongan. Berbagai problem sosial yang teridentifikasi mencakup keterbatasan akses pendidikan dan pekerjaan layak bagi penyandang difabel tunarungu, hingga masalah pengelolaan sampah dan degradasi lingkungan yang belum tertangani secara optimal.

Program BERBISIK dijalankan secara bertahap dan sistematis, dimulai dari pengembangan keahlian dasar atau basic skill untuk membangun kepercayaan diri dan keterampilan fundamental masyarakat difabel maupun non-difabel. Tahapan selanjutnya secara progresif memandu para peserta menuju level yang lebih tinggi, mencakup profesionalisme, kewirausahaan, hingga advokasi kebijakan pemerintah yang berpihak pada kelompok rentan.

"Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menerima manfaat sesaat, tetapi memiliki kesempatan untuk tumbuh secara berkelanjutan," tutur Roberth.

Roberth menegaskan bahwa program ini bukan sekadar bantuan sosial atau karitatif semata, melainkan sebuah proses yang bersifat partisipatif, transformatif, terintegrasi, dan berkelanjutan. Dalam program BERBISIK, kelompok masyarakat difabel dan non-difabel diposisikan sebagai subjek pembangunan, bukan objek yang hanya menerima bantuan. Mereka diberikan akses terhadap sumber daya produktif, penguatan kapasitas, serta pengakuan atas peran aktif mereka dalam pembangunan sosial dan ekonomi lokal.

Kedai Kopi Teman Istimewa dan Bank Sampah Jadi Ikon Inklusi Indramayu

Dari program BERBISIK yang komprehensif ini, lahirlah berbagai sub-program inovatif yang kini telah menjadi bagian nyata dari kehidupan ekonomi masyarakat Indramayu. Salah satunya adalah Bank Sampah Wiralodra yang hadir untuk mengatasi permasalahan sampah dan lingkungan di Desa Balongan secara sistematis dan berkelanjutan. Yang membanggakan, bank sampah serupa juga beroperasi di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II-B Indramayu dan dikelola secara aktif oleh para warga binaan di sana.

Sub-program lain yang menjadi kebanggaan adalah Kedai Kopi Teman Istimewa, sebuah usaha yang sepenuhnya dikelola oleh kawan difabel tunarungu. Lebih dari sekadar tempat usaha, kedai kopi ini menjadi wadah bagi mereka untuk berekspresi, meningkatkan kepercayaan diri, kapasitas, dan keterampilan, sehingga dapat berdaya secara sosial dan ekonomi. Tempat ini juga menyandang status istimewa sebagai ruang inklusi pertama yang pernah hadir di Kabupaten Indramayu.

Dampak sosial yang dihasilkan program BERBISIK sangat signifikan dan terukur. Program ini telah berhasil memberdayakan berbagai kelompok masyarakat rentan, di antaranya 155 penyandang difabel, 11 warga kurang mampu, 32 perempuan, lansia, anak-anak yang rawan secara sosial dan ekonomi, serta 55 warga binaan di Lapas Kelas IIB Indramayu yang mendapatkan kesempatan untuk produktif dan berdaya.

"Secara keseluruhan, program BERBISIK berhasil memberikan dampak positif pada lebih dari 10 ribu penerima manfaat tidak langsung di wilayah Kabupaten Indramayu," tambah Roberth.

Dari sisi lingkungan, program BERBISIK mencatatkan kontribusi nyata yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Program ini berhasil mengolah sampah organik hingga 1,8 ton per tahun, yang berdampak pada pengurangan emisi karbon mencapai 223.228,8 KG CO2 ekuivalen per tahun dari pengolahan sampah plastik maupun organik. Selain itu, program ini juga berhasil mengolah minyak jelantah hingga 240 liter per tahun menjadi produk bernilai ekonomis.

Dari sisi ekonomi, capaian program BERBISIK sangat mengesankan dan melampaui ekspektasi awal. Penjualan produk hasil olahan solidifikasi sampah plastik atau peristaltik berhasil meraih omzet lebih dari Rp270 juta per tahun. Sementara Kedai Kopi Teman Istimewa dan workshop kreatif mengumpulkan omzet lebih dari Rp220 juta per tahun, ditambah pendapatan warga binaan di lapas yang mencapai Rp74 juta per tahun.

Program BERBISIK juga menjadi bukti nyata dukungan Pertamina Patra Niaga terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs yang dicanangkan PBB, khususnya poin-poin terkait pengentasan kemiskinan, kesetaraan gender, pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, hingga aksi penanganan perubahan iklim. Komitmen ini menjadikan BERBISIK lebih dari sekadar program CSR, melainkan kontribusi nyata perusahaan terhadap agenda pembangunan global.

Puncak pengakuan atas keberhasilan program BERBISIK datang dalam bentuk penghargaan prestisius. Program inovasi sosial ini berhasil mengantarkan Kilang Balongan meraih Proper Emas tahun 2025, yang merupakan Proper Emas ke-8 yang diraih Kilang Balongan. Pencapaian luar biasa ini menjadi bukti bahwa inovasi sosial yang berpihak pada masyarakat dan lingkungan dapat berjalan beriringan dengan keberhasilan bisnis.

"Inovasi dan kolaborasi yang dilakukan Pertamina Patra Niaga dalam program BERBISIK telah menumbuhkan kesetaraan dan kemandirian ekonomi warga Desa Balongan. Masyarakat yang sebelumnya melalui hari dengan ketidakpastian, kini tersenyum lebar sambil menatap optimis masa depan. Kami berharap program ini tidak hanya berhenti di Balongan, tetapi menjadi inspirasi bagi wilayah lain," pungkas Roberth.

(tim)

No more pages