Pemerintah juga tetap optimistis terhadap kinerja domestik. Hasil pertumbuhan kuartal I-2026 dinilai menjadi indikator awal arah ekonomi sepanjang tahun.
Di sisi lain, dia berujar pemerintah tidak akan melakukan intervensi terhadap proyeksi tersebut. Toh, penilaian menjadi kewenangan masing-masing lembaga.
Menurutnya, komunikasi dengan lembaga internasional hingga kini tetap berjalan. Pemerintah tetap berkoordinasi dengan World Bank dan institusi lainnya.
Fokus kebijakan diarahkan pada stabilitas ekonomi domestik. Pemerintah juga mendorong pertumbuhan melalui berbagai langkah strategis agar kinerja ekonomi tetap terjaga di tengah ketidakpastian global.
Pemerintah dalam berbagai kesempatan memang optimistis pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026 dapat mencapai 5,5% hingga 5,7% karena ditopang oleh sejumlah data perekonomian khususnya sektor konsumsi yang menunjukan peningkatan.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut survei konsumen, survei Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia hingga pembelian motor dan mobil menunjukkan angka cemerlang.
Menurutnya, mesin pertumbuhan ekonomi RI akan terus dioptimalkan hingga sistem keuangan RI juga sudah siap serta iklim investasi yang terus diperbaiki.
Sebelumnya, World Bank menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7% pada 2026. Angka ini lebih rendah jika dibandingkan dengan proyeksi Bank Dunia pada Oktober 2025 karena pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa tumbuh 4,8%.
Dalam laporan World Bank berjudul East Asia and Pacific Economic Update edisi April 2026, perlambatan ini dipengaruhi oleh tekanan eksternal, terutama kenaikan harga minyak global serta meningkatnya sentimen kehati-hatian investor di pasar keuangan internasional (risk-off sentiment).
Pemerintah masih menunggu rilis resmi data kuartal I-2026 sebagai konfirmasi yang akan diumumkan pada awal Mei 2026. Sementara pada 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat 5,11% sedangkan pertumbuhan kuartal IV mencapai 5,39%.
(mfd/ain)




























