UBS, misalnya, memasang target Rp7.950 per saham. CGS International di Rp6.700, sementara Macquarie di Rp6.240.
Di sisi lain, masih ada pandangan lebih konservatif seperti JP Morgan yang menempatkan target Rp3.600 per saham dengan rekomendasi underweight.
Perhatian pasar dalam beberapa waktu terakhir mengarah pada potensi pembagian dividen. Dalam pertemuan dengan analis, manajemen mengindikasikan rasio pembayaran dividen berada di kisaran 70%–80% dari laba bersih.
Dengan asumsi payout ratio di level 80%, dividen final diperkirakan mencapai sekitar Rp383 per saham. Pada harga saham di kisaran Rp4.710, angka tersebut setara dengan potensi dividend yield sekitar 8,1%.
Di sisi fundamental, perseroan melihat ruang perbaikan kinerja masih terbuka. Return on equity (ROE) diproyeksikan dapat meningkat ke kisaran 21%–23% dalam jangka menengah, dari sekitar 20% pada 2025.
Untuk tahun 2026, Bank Mandiri mematok pertumbuhan kredit di kisaran 7%–9%, dengan net interest margin (NIM) diproyeksikan berada di level 4,6%–4,8%. Sementara itu, cost of credit (CoC) diperkirakan di kisaran 0,6%–0,8%.
Namun, manajemen juga mencatat sejumlah faktor eksternal yang dapat mempengaruhi kinerja, termasuk dinamika geopolitik di Timur Tengah dan pergerakan harga energi yang berpotensi berdampak pada likuiditas dan margin industri perbankan.
(fik/naw)





























