Logo Bloomberg Technoz

Penutupan efektif Selat Hormuz—dan serangan terhadap pabrik ekspor LNG terbesar di dunia di Qatar—telah menghambat sekitar seperlima pasokan global, mengacaukan pasar gas, dan menaikkan harga. Pengiriman dari Qatar terhenti, memaksa pelanggan di Bangladesh dan India mencari alternatif yang lebih mahal.

Bangladesh, yang tahun lalu menerima 60% pasokan LNG dari Qatar, terpaksa membeli pasokan dari pasar spot, terkadang menghabiskan biaya sekitar dua kali lipat dari yang seharusnya dibayarkan berdasarkan kontrak jangka panjangnya dengan negara Timur Tengah tersebut. Bangladesh dan India juga terpaksa membatasi pasokan gas ke sektor pupuk akibat berkurangnya pengiriman LNG.

India biasanya mengambil pendekatan konservatif dalam mengimpor minyak dan gas yang dikenai sanksi, dan pemerintah sebelumnya mengatakan tidak akan mengambil LNG Rusia dari proyek-proyek yang masuk daftar hitam.

India membeli pengiriman minyak Iran pertamanya sejak 2019 setelah Departemen Keuangan AS menerbitkan lisensi umum bulan lalu yang mencabut pembatasan.

Meski Rusia terus memperluas ekspor dari fasilitas ekspor yang dikenai sanksi AS—Arctic LNG 2 dan Portovaya—sebagian besar pembeli tetap waspada terhadap pengiriman yang dibatasi karena takut akan pembalasan dari Washington.

China sejauh ini menjadi satu-satunya negara yang mengimpor LNG Rusia yang dikenai sanksi melalui jaringan kapal armada bayangan.

Memperluas pengiriman ke negara-negara di luar China akan membantu Rusia mendiversifikasi basis pelanggannya dan memperluas ekspor dari fasilitas-fasilitasnya yang masuk daftar hitam.

Arctic LNG 2—yang dirancang untuk menjadi pabrik LNG terbesar di Rusia—mulai melakukan ekspor pada tahun 2024, tetapi kapasitas penuhnya terhambat oleh kurangnya kapasitas pengiriman dan pembeli yang bersedia.

(bbn)

No more pages